Kepala BI Sumbar Wahyu Purnama (kanan) diwawancarai media, Rabu (4/12/2019). (Foto : Miftahul Ilmi)


Ekonomi

Wahyu Purnama: Sumbar Perlu Perhatikan Sumber Perekomian Baru

PADANG (SumbarFokus)

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Wahyu Purnama mengatakan, jika Sumbar tidak memperhatikan sumber-sumber perekonomian yang baru maka kondisi tersebut bisa mengakibatkan penurunan laju perekonomian di Sumbar.

Ini dikemukakan Wahyu dalam kesempatan Penyampaian Evaluasi Kinerja Ekonomi Tahunan 2019 Bank Indonesia pada pertemuan tahunan BI dengan mengusung tema Sinergi, Transformasi, Inovasi untuk Indonesia Maju. Pertemuan tahunan ini berlangsung di Aula Anggun Nan Tongga, Kantor Perwakilan BI Sumbar, Rabu (4/12/2019).

"Kalau dibandingkan dengan provinsi tetangga, tingkat nasional kita tidak terenda. Kita masih berada di kisaran 50, tetapi tentunya kita tak cukup untuk bertahan sampai di situ. Kita harus memperhatikan sumber-sumber perekonomian yang baru, jika tidak dia akan terus menurun. Artinya kita tak bisa bertahan dengan sumber perekonomian yang ada," jelasnya.


Ia mengemukakan, pertumbuhan ekonomi baru kekuatannya ada pada pariwisata.

"Jika kita bertumpu kepada pertanian saja, atau ekspor sawit, karet, batu bara, perekonomian kita bisa saja semakin menurun. Makanya untuk menjaga itu perlu ditingkatkan, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi baru, yang mana kekuatannya yang berdampak besar ada pada pariwisata," ujarnya.

Ditambahkan, untuk mengembangkan investasi di Sumbar dibutuhkan investor dari luar dan dari dalam.

"Jika berbicara investasi, kalau menurut saya investor itu dari dalam dan dari luar, jika kita menegmbangkan investor dari dalam kalau sudah semakin banyak dan semakin maju, orang luar akan melirik ini. Jadi dikembangkan secara bersama-sama baik dari luar maupun dari luar," katanya.

Sementara, laju pertumbuhan ekonomi Sumbar, dikemukakan, akan tumbuh stabil 4,8%– 5,2% (yoy), dibandingkan tahun 2018 (5,14% yoy). Laju inflasi Sumbar tahun ini diperkirakan sedikit menurun dibandingkan tahun 2018 sebesar 2,60% (yoy), didukung tingginya komitmen dan kuatnya sinergi antara instansi dalam upaya pengendalian inflasi.

“Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit atau pembiayaan di Sumbar relatif meningkat dengan rasio Non Performing Loan (NPL) yang stabil, terutama pada perbankan syariah,” ungkap Wahyu.

Terkait ekonomi syariah, Wahyu menyebutkan, BI sangat mendukung pengembangannya. Oleh karena itu, BI saat ini tengah melaksanakan program pengembangan kemandirian ekonomi pondok pesantren untuk menunjang kemandirian ekonomi.

Wahyu menegaskan, ke depan, pertumbuhan ekonomi Sumbar akan lebih baik dibandingkan saat ini, dengan prakiraan pertumbuhan sebesar 4,9%-5,35% (yoy) pada 2020. Sementara, tekanan inflasi di tahun 2020 diperkirakan moderat dan tetap terkendali. (013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      sumbar