Filolog Dr. Ahmad Taufik Hidayat, saat menyampaikan masukan tentang pendirian Pusat Kajian Manuskrip Kegamaan yang digagas Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Agama RI, Kamis (12/9/2019). (Foto: Rahmat Denas)


Pendidikan

Wacana Pembentukan Pusat Kajian Manuskrip Kegamaan Dibahas di UIN IB Padang

PADANG (SumbarFokus)

Dalam upaya mendorong penelitian mengenai naskah-naskah Nusantara, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Agama RI mengusung wacana pendirian Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara (PKMKN). 

Hal itu diungkapkan perwakilan LKKMO, Dr. Masmedia Pinem, dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang kajian manuskrip keagamaan Nusantara di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol pada Kamis (12/9/2019). 

"PKMKN ditujukan sebagai wadah untuk menyelamatkan dan mengadakan kajian-kajian ilmiah terkait unsur intirnsik dan ekstrinsik suatu manuskrip atau naskah klasik," ujar Masmedia .


Kehadiran PKMKN, lanjut Masmedia, mencoba menjawab belum adanya sebuah pusat kajian manuskrip Nusantara yang memberikan perhatian pada kajian manuskrip keberagamaan secara komprehensif, dikelola secara profesional, dan melakukan kajian terus menerus.

"PKMKN akan menghimpun sebanyak mungkin manuskrip lama guna diteliti dan dipublikasikan. Bagiamana mengubah harta pusaka berubah menjadi harta pustaka," tutur Masmedia kepada SumbarFokus.

FGD tentang kajian manuskrip keagamaan Nusantara merupakan kegiatan yang digelar oleh LKKMO bekerja sama dengan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol. Acara ini dihadiri oleh 30 orang peserta dari dosen dan peneliti UIN Imam Bonjol serta pemerhati manuskrip. 

Dalam sesi diskusi, para peserta memberikan masukan terkait wacana pembentukan PKMKN. Di antara pokok-pokok pikiran yang berkembang adalah perlunya koordinasi di antara lembaga dan pusat kajian manuskrip. Hal itu diutarakan oleh filolog, Dr. Ahmad Taufik Hidayat.

"Selama ini para penggiat naskah bekerja sendiri-sendiri. Sebagai contoh, dalam melakukan digitalisasi, sering terjadi proses digitalisasi berulang-ulang," ujarnya.

Persoalan demikian, lanjut Ahmad, diharapkan dapat dicarikan penyelesaiannya oleh LKKMO melalui PKMKN.

Selain itu, Ahmad mengatakan, perlu dilakukan pengkajian naskah dari berbagai disiplin ilmu agar komprehensifnya penggalian naskah. Oleh karenanya, ia menyarankan ada integrasi antarkeilmuan. 

“Untuk menggali kekayaan manuskrip, perlu kajian yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, sehingga kajian naskah bisa diintegrasikan dengan kajian terkait hukum, saintis, budaya, dan lainnya,” jelas Ahmad.

Sementara itu, pemerhati adat, Dr. Yulizal Yunus, mengatakan perlunya pemberian pemahaman terhadap masyarakat untuk mendukung upaya pelestarian dan penyelamatan naskah-naskah yang dimilikinya.  Sebab peneliti sulit untuk mendapat akses terhadap naskah karena naskah dianggap oleh masyarakat pemilik sebagai benda keramat.

"Dewasa ini, manuskrip cenderung dianggap sebagai barang pusaka sehingga jarang sekali dibuka untuk dibaca. Lama kelamaan karena tidak semua keturunan penulisnya bisa membacanya, menjadi pusaka, jimat. Tugas kita (pusat kajian) adalah bagaimana manuskrip menjadi benda pusaka kita sekaligus benda pustaka kita,” ujar Yulizal.

Sementara, Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Dr. Sudarman mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh LKKMO terkait pendirian PKMKN.

“Kami menyambut baik wacana kehadiran PKMKN. Harapan kami, semoga saran-saran yang muncul selama FGD terkait pendirian PKMKN ditidaklanjuti,” ungkapnya.

Selain itu, ia berharap hasil-hasil penelitian Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara nantinya bisa menjadi rujukan para peneliti dari berbagai disiplin ilmu. (006)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018