Kepala BNPB Doni Monardo (kanan) dan Gubernur Sumbar Mahyeldi (kiri), saat diwawancara wartawan di ruang VVIP BIM, Rabu (14/4/2021). (Foto: M. SHIDDIQ PUTRA)


Lain-lain

Untuk Perantau Minang, Kepala BNPB: Basaba Awak Dulu, Jangan Pulang Kampung

PADANG (SumbarFokus)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang juga Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardo mengimbau para perantau untuk tidak melaksanakan mudik saat momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Imbauan tersebut disampaikannya saat ia berkunjung ke Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (14/4/2021). Kunjungan Doni sendiri ke Sumbar dalam rangka mengevaluasi penanganan COVID-19.

"Basaba awak dulu (red-Bersabar kita dahulu). COVID-19 ini belum habis, belum hilang. Masyarakat yang ada di rantau jangan pulang dulu. Lebaran dengan virtual. Silaturahmi menggunakan teknologi. Jangan pulang kampung," Doni menekankan.

Didampingi Gubernur Sumbar Mahyeldi, yang menyambut kedatangannya di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Rabu siang itu, Doni menyebutkan bahwa kehadirannya di ranah Minang kali ini merupakan pertama kali ia kembali mengunjungi Sumbar sejak setahun lalu.


"Sejak COVID-19 terjadi pada bulan Maret tahun lalu, saya tidak pernah berkunjung ke Sumatera Barat," katanya.

Menurutnya, COVID-19 merupakan wabah yang sangat membahayakan, yang bahkan ia sendiri pernah merasakan ganasnya penyakit tersebut. Risiko penyakit itu adalah kematian. Oleh karena itu, masyarakat jangan sampai menganggap remeh COVID-19.

"Walaupun sekarang ini di banyak provinsi termasuk Sumatera Barat mengalami penurunan kasus, namun COVID-19 masih ada dan belum hilang. Di beberapa negara COVID-19 mengalami peningkatan yang luar biasa, bahkan WHO dan PBB mengatakan bahwa dunia saat ini mengalami pandemi yang lebih mengkhawatirkan," ungkapnya.

Disebutkan lagi, Pemerintah Pusat melarang mudik dan pulang kampung. Dia mengingatkan jangan sampai terjadi  kondisi seperti tahun lalu, setelah Lebaran kasus positif COVID-19 meningkat sehingga rumah sakit penuh dan menyebabkan banyak dokter serta tenaga medis, yang merupakan ujung tombak perlawanan terhadap COVID-19 di Indonesia, terdampak dan tidak sedikit yang meninggal akibat tertular COVID-19.

"Kalau kita sayang dengan bangsa kita, sayang dengan keluarga kita, kita sayang dengan para dokter yang berjuang demi kemanusiaan, maka bersabar. Jangan pulang kampung dulu," ujar dia.

Ditambahkan, apabila tetap ada yang pulang, harus ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur serta sanksi yang berbeda di masing-masing daerah. Dikatakan, setiap desa, kelurahan, dan nagari harus memiliki SOP(red-Standard Operational Procedure) yang mengatur untuk mengarantina mereka yang datang selama lima hari, supaya bisa diketahui apakah ada yang positif COVID-19 atau tidak.

Kita Peduli!

“Apabila setelah silaturahmi mereka menularkan COVID-19, ini sangat membahayakan terutama kelompok masyarakat rentan, lansia, dan kelompok dengan komorbid (red-penyakit penyerta). Dan (jika) di daerah itu tidak ada puskesmas maupun rumah sakit, risikonya akan sangat fatal sekali," pungkas Doni.  (018)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020




      covidsumbar