Bayi prematur di RSUD Kota Pariaman butuh uluran tangan dermawan. (Foto: Ist.)


Lain-lain

Tidak Terdaftar BPJS Kesehatan, Bayi 700 Gram di Pariaman Butuh Bantuan

PARIAMAN (SumbarFokus)

Lahir pada 9 Desember 2019 dengan berat 700 gram, seorang bayi perempuan asal Nagari Koto Baru, Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), hingga kini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Pariaman dan berada di inkubator ruang perinatologi.

Disebutkan oleh Direktur RSUD Pariaman dr. Indria Velutina, bayi ini merupakan bayi terkecil yang pernah dirawat oleh RSUD Kota Pariaman.

"Awalnya orang tuanya cemas selain kondisi anak, juga karena biayanya yang besar dan tidak terdaftar ke kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS," sebut Indria.


Untuk membantu orang tua bayi, pihak RS telah menghubungi Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman agar mendapatkan Jaminan Persalinan serta Badan Amil Zakat RSUD Pariaman hingga klaim kepesertaan JKN-nya pertengahan bulan ini keluar.

 

Harus diberi susu khusus

Sementara, Kepala Ruangan Perinatologi RSUD Pariaman Risda Zailinda menjelaskan, di awal perawatan bayi tersebut harus menjalani puasa selama satu minggu karena perut kembung sehingga berat badannya turun menjadi 500 gram.

"Namun saat ini beratnya sudah mulai naik menjadi 780 gram karena diberikan susu khusus," kata dia.

Karena keluarga tidak mampu membeli susu khusus yang harganya kisaran di atas Rp1 juta, orang tua sang bayi kemudian membeli susu tersebut secara eceran dengan harga Rp20 ribu per saset untuk ukuran 0,71 gram.

“Padahal, susu tersebut dibutuhkan oleh bayi agar dapat mempercepat penambahan beratnya. Apalagi kebutuhan susu untuk bayi tersebut semakin lama semakin banyak karena di awal pemberiannya dibutuhkan empat saset susu perhari dan sekarang menjadi enam saset,” terangnya.

Pemberian susu ini, dikatakan, diselang-selingi oleh orang tua, bahkan kadang dicampur dengan air susu ibu.

Sementara, sang ibu, Nurleli (33) mengatakan, ia hanya mampu membeli susu tersebut secara eceran karena harganya yang mahal apalagi pekerjaan suaminya hanya serabutan.

"Kerjaan suami saya kadang jadi petani, kadang dagang kerupuk. Jadi kami hanya mampu membeli susu 20 saset, kalau uang terkumpul dibeli lagi," tutur Nurleli.

 

Lahir prematur

Penyebab rendahnya berat sang bayi, dijelaskan oleh Direktur RSUD Pariaman dr. Indria Velutina, adalah karena lahir prematur yang dalam kandungan hanya 23 sampai 24 minggu padahal seharunya 38 sampai 39 minggu.

Akibatnya kondisi bayi masuk ke dalam status berat bedan lahir amat sangat rendah sehingga harus dirawat intensif karena untuk berat bayi lahir normal di atas 2,5 kilogram. (002)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018