Gedung Kantor Dinas Kebudayaan Sumbar. (Foto: YEYEN)


Pariwara Pemprov Sumbar

Terus Bergerak, Pemprov Sumbar Upayakan Pemajuan Kebudayaan Melalui Dinas Kebudayaan

PADANG (SumbarFokus)

Sejak dikukuhkan di tahun 2017, Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) melakukan berbagai upaya. Perjalanan bertahun-tahunpun membuahkan berbagai hasil. SumbarFokus berkesempatan mendengarkan cerita perjalanan itu dari Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumbar Yayat Wahyudi A, baru-baru ini.

Diceritakan, sebelum ditetapkan berdiri sendiri, pekerjaan terkait upaya pemajuan kebudayaan melekat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Banyak hal sudah dilakukan, terkait dengan pembangunan di bidang kebudayaan.

“Pada 2017 itu, Kita masih mencari format yang tepat, bagaimana upaya yang harus dilakukan dalam penyusunan blue print pemajuan kebudayaan di Sumbar. Jadi karena Dinas Kebudayaan baru terbentuk, orientasi dan prioritas saat itu adalah penyusunan organisasi dan mulai perkenalan dengan tokoh-tokoh budaya dan masyarakat,” kata Yayat mengawali pemaparan.


Program yang mulai nampak yaitu disusunnya Pokok Pemajuan Kebudayaan Daerah (PPKD). Dalam hal ini, Dinas Kebudayaan Sumbar bersama seluruh stakeholder membuat sebuah blue print terkait bagaimana konsep pemajuan kebudayaan di Sumbar melalui dokumen PPKD. Inilah produk pertama Dinas Kebudayaan Sumbar untuk upaya pemajuan kebudayaan.

Kemudian, di tahun 2018, upaya pelestarian kesenian tradisional terwujud dalam aksi Silek Art Festival, yang merupakan sebuah program dengan Kementerian Pusat.

“Dari sini Kita coba kembangkan konsep yang kita punya, yaitu Silek Art Festival. Di sana Kita memberdayakan komunitas-komunitas silek dan komunitas-komunitas budaya lainnya, karena konsep dalam pelaksanaan upaya pemajuan kebudayaan ini adalah pemberdayaan komunitas di mana masing-masing elemen yang ada dalam komunitas itu saling membutuhkan. Ini adalah progress yang berskala besar,” kata Yayat.

Dinas Kebudayaan juga melanjutkan kerja dari upaya sebelumnya, saat masih melekat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, seperti agenda tahunan pekan kebudayaan daerah, yang diusung oleh UPTD Taman Budaya. Selain itu juga berbagai festival rutin, tetap digelar.

Ditegaskan juga, seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan, dan dalam rangka pemajuan kebudayaan, orientasinya dalam rangka pelestarian. Konsep pemajuan kebudayaan, yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017, tidak mengenal kata pelestarian lagi, tapi pemajuan kebudayaan.

“Di dalam pemajuan kebudayaan, ada empat aspek, yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” imbuh Yayat.   

Kita Peduli!

Upaya perlindungan sendiri, disebutkan, telah dilakukan oleh UPTD Museum, yaitu Museum Adityawarna, yang sebelum Dinas Kebudayaan terbentuk juga telah memainkan peranannya, melindungi koleksi budaya yang ada di museum.

“Perlindungan Kita lakukan baik terhadap warisan budaya dalam bentu nilai atau tak benda, dan dalam bentuk benda, seperti candi, situs, atau manuskrip. Tadinya ini dilakukan BPCB, satu unit di Kementerian Pusat, Balai Pelestarian Cagar Budaya. Dan ini masih terlingkup di objek pemajuan kebudayaan, yaitu cagar budaya. Mulai 2017 sampai sekarang, Kita (red-Dinas Kebudayaan) sudah concern untuk melakukan pelestarian, dalam upaya perlindungan terhadap warisan budaya tak benda,” papar Yayat.

Dicontohkan, pihaknya melakukan upaya perlindungan terhadap kesenian tradisional yang hampir punah. Ini sudah berjalan sejak 2019, dan di 2020 sempat terkendala wabah, namun sejak new normal pergerakan diteruskan. Telah tiga kesenian tradisional didokumentasi oleh Dinas Kebudayaan.

Dalam upaya ini, disebutkan, tidak ada target tertentu dari Dinas Kebudayaan. Yang jelas, setiap ada indikasi kesenian tradisional menuju kepunahan, Dinas bergerak menyelamatkan.

“Punah itu indikasi bahaya. Contohnya kemarin ada saluang pauah. Waktu itu masih ada ahli waris satu-dua orang. Ini Kita coba ditularkan pada yang lain. Langkah pertama yang kita lakukan mendokumentasi. Juga ada tradisi lisan sampelong di Lima Puluh Kota, saat ini sudah hampir punah. Hanya tinggal satu orang yang menguasai kesenian itu. Malah sudah sakit-sakitan juga,” ucapnya.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Yayat Wahyudi A. (Foto: YEYEN)

Ditegaskan, jika ada satu karya budaya yang punah, daerah terkait mengalami kerugian yang signifikan, yaitu kehilangan salah satu identitas. Karena itu, upaya pelestarian perlu dilakukan.

Dipaparkan, hingga tahun 2019, telah 33 karya budaya Sumbar ditetapakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Ini merupakan kebanggan tersendiri bagi Sumbar, menyumbang warisan budaya bagi budaya Nasional.

 

Tabel WBTBI dari Sumbar

No.

Karya Budaya

Tahun Penetapan

Lokasi Karya Budaya

1.

Randang

2013

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

2.

Sistem Matrilineal

2013

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

3.

Tabuik

2013

Kabupaten Padang Pariaman

Kota Pariaman

4.

Rumah Gadang

2013

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

5.

Indang Piaman

2014

Kabupaten Padang Pariaman

Kota Pariaman

6.

Kaba Cindua Mato

2014

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

7.

Ronggeng Pasaman

2014

Kabupaten Pasaman

Kabupaten Pasaman Barat

8.

Silek Minang

2014

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

9.

Songket Pandai Sikek

2014

Kabupaten Tanah Datar

10.

Tari Toga

2014

Siguntur, Kabupaten Dharmasraya

11.

Tato Mentawai

2014

Kabupaten Kepulauan Mentawai

12.

Ulu Ambek

 

Kabupaten Padang Pariaman

Kota Pariaman

13.

Rabab

2015

Kabupaten Solok Selatan

Kabupaten Pesisir Selatan

Kota Pariaman

14.

Selawat Dulang

2015

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

15.

Pasambahan

2015

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

16.

Batombe

2015

Kabupaten Solok Selatan

17.

Tari Tanduak

2016

Lubuak Tarok, Kabupaten Sijunjung

18.

Tari Piriang

2016

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

19.

Randai

2017

Seluruh kab./kota di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai

20.

Bahasa Tansi

2018

Kota Sawahlunto

21.

Babiola

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

22.

Tari Benten

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

23.

Sikambang Manih

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

24.

Tari Kain

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

25.

Anak Balam

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

26.

Patang Balimau

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

27.

Badampiang

2019

Kabupaten Pesisir Selatan

28.

Batatah

2019

Kabupaten Pasaman

29.

Diki Pano

2019

Kabupaten Pasaman

30.

Talempong Unggan

2019

Kabupaten Sijunjung

31.

Sikerei

2019

Kabupaten Kepulauan Mentawai

32.

Arak Bako

2019

Kota Solok

33.

Songket Silungkang

2019

Kota Sawahlunto

 

 

Bahkan, di tahun 2019, karya budaya tak benda dari Sumbar, silek, juga ditetapkan jadi warisan budaya dunia. Selain itu, juga ada warisan dunia Ombilin Mining Park, yang merupakan rangkaian cagar budaya, situs-situs mulai dari Kota Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, Tanah Datar, Solok, Sijunjung, sampai ke Sawahlunto.

Selain itu, disebutkan juga oleh Yayat, pihaknya juga tengah memperjuangkan target di 2021 untuk menjadikan Dinas tersebut masuk tipelogi A.

“Target 2021 Kita usulkan perubahan tipelogi. 2020 ini Kita harus mengubah nomenklatur Dinas, menyesuaikan dengan permendagri,” pungkasnya. (003)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2021