Presiden IOI Made Dana Tangkas dan Dekan FTI Hidayat menandatangani MoU di Aula UBH Padang, Rabu (5/12/2018). (Foto: Wahyu)


Pendidikan

Presiden IOI : Mahasiswa Harus Jadi Penggerak Industri Otomotif

PADANG (SumbarFokus)

Mahasiswa harus jadi penggerak industri otomotif masa depan. Pasalnya sampai sekarang belum ada industri otomotif yang hidup utuh di Indonesia, sebab 90 persen alat otomotif di tanah air masih diimpor. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang memadai.

Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) Ir.I.Made Dana Tangkas,MSi.IPU ketika memberikan Kuliah Umum bertemakan "Tantangan dan Peluang Industri Otomotif bagi Perguruan Tinggi di Era 4.0" di Aula Balairung Caraka Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (5/12/2018).

"Sampai sekarang belum ada industri otomotif yang utuh di Indonesia, padahal Jepang, Korea, China, bahkan Singapura tanpa SDA tapi memiliki industri otomotif yang hebat di asia bahkan dunia," ujar Made.


Berdasarkan fenomena itu, ia menegaskan generasi muda terutama mahasiswa harus mampu menciptakan inovasi dan mengubah paradigma (mindset), membangun leadership, dan menguatkan nilai-nilai religius, etika, atau moral dalam mengelola SDA yang ada di dalam kehidupan.

Dikatakannya, anak negeri harus menjadi pengelola bahan baku, menggarap, dan menggunakan dari SDA yang ada menjadi industri. Terutama paradigma generasi muda harus dikokohkan sebagai pemilik bukan sebagai pekerja.

"Kemandirian dan kedaulatan suatu bangsa dimulai dari paradigma yang benar," sambungnya.

Terakhir ia menyebutkan, Indonesia masih punya kesempatan untuk bisa bersaing dalam teknologi, bahkan tidak kalah di Asean. Hanya saja katanya, generasi muda perlu meningkatkan kinerja, inovasi, dan berusaha menjadi terindustri otomotif ternama serta berdaulat.

"Generasi muda harus memikirkan industri yang dibutuhkan 10 tahun ke depan, seperti robot, drone, dan lainnya agar bisa bersaing dengan Amerika, Jepang, China dan berbagai negara lainnya. Jangan hanya mampu membeli, tapi harus bisa memproduksi," paparnya.

Sementara Badan Pengurus Yayasan Bung Hatta Masri Hasyar mengatakan, tantangan generasi muda ke depannya sangat besar, sehingga revolusi industri 4.0 tidak boleh dilengahkan tapi harus dihadapi.

Kita Peduli!

Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni melakukan revitalisasi untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 ke depannya. Misalnya, menjadikan peranan penting mahasiswa untuk melakukan perubahan.

"Fakultas Teknik Industri (FTI) sudah disiapkan sebagai fakultas pertama melakukan revitalisasi revolusi industri 4.0, maka FTI nanti harus membuktikan produknya untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat," sebutnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan Dekan FTI Hidayat. Menurutnya mahasiswa FTI harus menjadi penggerak bagi industri otomotif ke depannya. Langkah itu dikatakannya bisa ditempuh dengan melahirkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing.

“Sangat perlu kita ciptakan batu loncatan untuk menghadapi revolusi industri 4.0 yang harus diciptakan sejak dini. Jadi tahun 2019 kita mulai melakukan pusat pengembangan kompetensi bagi mahasiswa,” pungkasnya. (005)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2021