Kapolres Kabupaten Kepulauan Mentawai AKBP Dody Prawiranegara menyampaikan keterangan tentang kasus pembunuhan yang terjadi tahun 2017 silam dalam press release di mapolres setempat, Rabu (22/1/2020). (Foto: Ist)


Hukum

Polres Mentawai Berhasil Ungkap Kasus Pembunuhan yang Terjadi Tiga Tahun Lalu

TUAPEIJAT (SumbarFokus) 

Kasus pembunuhan dengan korban Sopian yang terjadi di Dusun Saikoat Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai pada tahun 2017 lalu akhirnya terungkap setelah pelaku Oiloten (38 tahun) berhasil diamankan pihak kepolisian. 

Kapolres Kepukauan Mentawai AKBP Dody Prawiranegara menjelaskan pelaku berhasil diamankan saat jajaran Satreskrim Polres Mentawai yang dipimpin Ipda Doni Rahmadian mendatangi Dusun Saikoat, Desa Simatalu, untuk mencari keberadaan pelaku yang disinyalir berada di daerah tersebut.

Setelah beberapa hari lamanya personel reskrim berada di Dusun Saikot, pelaku akhirnya keluar dari hutan yang jadi tempat persembunyiannya lalu mendatangi petugas dan menyerahkan diri pada Hari Minggu (19/1/2020) sekira pukul 01.00 WIB. 


“Petugas juga mengamankan barang bukti berupa satu unit mesin chainsaw merk Prol Pro 5800 warna merah abu-abu gangang warna hitam milik korban. Selanjutnya pelaku dan barang bukti dibawa ke mapolres untuk proses hukum lebih lanjut,” ucap AKBP Dody Prawiranegara dalam press release di mapolres setempat, Rabu (22/1/2020).

Ia menjelaskan kronologis terjadinya pembunuhan tersebut. Bermula ketika korban bersama ibunya pergi ke ladang pada Rabu (27/9/2017) sekira pukul 07.00 WIB. Ibu korban lebih dulu pulang ke rumah namun korban tidak kunjung pulang.

Pada Kamis (28/9/2017) sekitar pukul 16.00 WIB, salah seorang saksi bernama Temauwani mendatangi rumah korban di Dusun Saikoat untuk memberitahukan kepada anak perempuan korban Avomanai agar “tidak usah menunggu Bapakmu lagi, karena bapakmu sudah dibunuh oleh Tak Ambek Cs”.

Anak perempuan korban menyampaikan hal itu kepada ibunya dan ibunya melaporkan kejadian kepada warga setempat yang meneruskan hal itu ke Polsek Sikabaluan.

Selanjutnya petugas kepolisian melakukan penyelidikan dan diketahui bahwa beberapa hari sebelumnya, yaitu pada Selasa (26/9/2017) pelaku mendapati empat ekor babi miliknya mati dan empat lagi kritis. Di tubuh babi itu terdapat sabetan benda tajam.

Dalam perjalanan pulang dari lokasi kandang babi ke rumahnya, pelaku bertemu dengan korban Sopian dan menanyakan apakah melihat orang yang membunuh babinya.

Sopian lantas mempertayakan kenapa Oiloten menanyakan hal itu kepadanya. Sopian juga menyebut  apakah Oiloten menuduhnya yang telah membunuh babi tersebut. 

Oiloten kemudian menjawab bahwa dia hanya sekadar bertanya saja. Di saat itu terjadi cekcok mulut hingga akhirnya pelaku mengajak korban untuk bersumpah secara adat dengan memotong rotan.

Dalam sumpah itu dikatakan siapa yang berbohong maka akan menerima akibatnya. 

Korban menyanggupi ajakan sumpah adat itu.

Namun tiba-tiba Oiloten melihat Sopian mengayunkan parang ke arahnya. Oiloten langsung membela diri. Dalam perkelahian itu Oiloten membacok bagian tubuh korban hingga akhirnya korban meninggal.

Setelah kejadian jasad korban dibiarkan begitu saja dan pelaku menyampaikan kejadian tersebut kepada orangtuanya Tak Ambek di daerah Pungga. Lalu orangtuanya menjawab, “kau urus saja sendiri”.

Mendengar jawaban itu pelaku kembali ke TKP untuk menguburkan mayat korban.
“Dalam perkara ini pelaku dijerat pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun,” pungkas AKBP Dody Prawiranegara. (017)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018