Pengendalian inflasi tetap jadi amanah utama Wahyu Utama A dalam bertugas sebagai Kepala BI Sumbar. (Foto: Yeyen)


Mereka

Pimpin BI Sumbar, Wahyu Purnama Akan Mengabdi di Kampung Halaman

Oleh SISCA OKTRI SANTI

Lahir di Kota Padang, besar di Kota Payakumbuh, merantau ke berbagai daerah karena penugasan, kini Wahyu Purnama A pulang kampuang. Bank Indonesia menunjuk dirinya untuk memimpin Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat (Sumbar), terhitung sejak Serah Terima Jabatan (Sertijab) yang  dilakukan 29 Maret 2019.

Seperti para pendahulu sebelumnya, tugas Wahyu sebagai pengganti Endy Dwi Tjahjono punya misi yang sama, menjaga laju inflasi agar terkendali positif. Sebagai pemimpin BI Sumbar ke-18, pria alumni Universitas Andalas jurusan Akuntansi ini diamanahkan menghantarkan BI agar bisa berperan maksimal dalam mengkawal stabilitas pereknomian melalui pengendalian inflasi di Sumbar.

“Inflasi nasional hampir 80 persen disumbang oleh inflasi di daerah. Hanya sekitar 20 persenan saja inflasi di pusat, DKI Jakarta. Oleh karena itu, semua daerah di Indonesia harus aktif dalam pengendalian inflasi. Kalau harga-harga tidak stabil, bergejolak, turun naik,dampaknya menurunkan daya beli. Jika daya beli menurun, semakin banyak rakyat yang miskin. Oleh karena itu, inflasi harus dikendalikan agar stabil, terutama terkait kebutuhan pokok,” jelas Wahyu pada SumbarFokus saat dijumpai baru-baru ini.


Pria yang hobi gowes ini sangat memahami bahwa di Sumbar, pengendalian inflasi lebih diwarnai oleh pangan seperti beras, cabai. Meskipun berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat Sumbar sendiri sesungguhnya produksi komoditas pangan Sumbar sudah cukup, namun tuntutan kebutuhan daerah lain yang dipasok Sumbar kebutuhannya tetap bisa mempengaruhi stabilitas harga komoditas di Sumbar sehingga potensi inflasi tak terkendali bisa tetap ada.

Wahyu mencontohkan, petani di Sumbar bisa saja mengirimkan hasil panennya ke daerah lain jika di daerah tersebut sedang mengalami kekurangan sehingga harga di daerah tersebut relatif lebih tinggi daripada harga komoditas diserap Sumbar. Dengan dikirimnya hasil panen Sumbar ke daerah lain karena petani lebih tertarik harga yang lebih tinggi, dan itu wajar, maka harga komoditas di Sumbar jadi naik sehingga bisa menurunkan daya beli masyarakat.

“Perdagangan antar daerah ini penting dijaga. Selain itu juga bagaimana Sumbar bisa menambah produksi. Dalam menyokong ini, BI Sumbar juga punya cluster, seperti cluster cabai, bawang merah, bahkan beras organik. Cluster ini mirip pilot project, diharapkan bisa diikuti oleh masyarakat,” papar Wahyu.

Bapak tiga orang puteri ini juga memuji Sumbar, terkait berjalan baiknya pengendalian inflasi di Sumbar selama ini. Pengendalian inflasi yang baik di Sumbar dibuktikan dengan terpilihnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Padang menjadi yang terbaik periode 2015-2017 dan terpilihnya TPID Provinsi Sumbar menjadi yang terbaik periode 2016-2017.

Selain pengendalian laju inflasi, Wahyu punya proyeksi mulia lainnya untuk Sumbar, yaitu pengembangan ekonomi syariah. Dirinya memandang, Sumbar punya modal yang sangat kuat untuk bisa mengembangan perekonomian syariah. Modal itu adalah falsafah Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah. Meskipun secara nasional pengembangan ekonomi syariah punya kendala yang nyaris sama, menurutnya, tapi Wahyu optimis dengan modal Sumbar yang kuat dan kerjasama berbagai pihak seperti lembaga keuangan syariah itu sendiri, Majelis Ulama Indonesia Sumbar, Masyarakat Ekonomi Syariah, Orientasi Jasa Keuangan (OJK), dan BI sendiri serta pelaksanaan yang masif, maka pengembangan ekonomi syariah di Sumbar bisa mendatangkan hasil luar biasa.

“Dari sisi lembaga keuangan syariah itu sendiri, harus mampu beri fasilitas dan produk yang baik bagi masyarakat. Dikembangkan. Jangan kalah sama konvensional,” imbuh Wahyu memberi saran agar masyarakan makin melirik lembaga keuangan berformat syariah.

Kita Peduli!

Tak hanya target-target di atas, berbagai misi yang diamanahkan BI kepada dirinya untuk bertugas sebagai Kepala BI Sumbar. Proyeksi kemajuan pariwisata dan harumnya nama Sumbar melalui ajang-ajang nasional juga telah ada dalam kerangka pikir pria kelahiran 1968 ini.

Teks: Pengembangan ekonomi syariah di Sumbar jadi salah satu proyeksi Kepala BI Sumbar Wahyu Purnama A. (Foto: Yeyen)

 

Passion yang terkaburkan

Dibesarkan oleh orangtua yang berlatarbelakang ilmu kesehatan, ayah seorang perawat dan ibu seorang bidan, di awal pemikirannya tentang karir, Wahyu sempat tidak begitu tertarik pada dunia keuangan. Pilihan awal program studi saat ia ingin masuk universitas adalah Teknik Mesin dan Teknik Lingkungan.

Ingin berkuliah di Institut Teknologi Bandung, akhirnya lolos di Akuntansi, Wahyu sempat merasa kecewa. Namun, kebijaksanaan yang diwariskan sang ayah pada dirinya menjadikan dirinya selalu mengambil hikmah di balik kejadian yang menimpa.

Tak mau berlama-lama kecewa karena tidak lulus di jurusan yang diinginkan, Wahyu tetap belajar optimal sehingga di semester pertama ia berhasil meraih Indeks Prestasi 3,3.

“Bisa jadi seseorang itu sudah punya passion, tapi lingkungannya mengaburkan passion tersebut. Seperti yang saya alami. ITB itu termasuk number one. Di masa kecil, saya sering diajak orang tua ke Bandung, jalan-jalannya  k ITB.  Waktu itu kuliah di akademi perawat di Bandung. Jadi saya punya impian masuk ITB,” kenang Wahyu.

Wahyu menekankan, segala sesuatu telah diatur Allah dan pasti ada hikmahnya.  Seperti yang dirasakannya, Wahyu mengaku, jika dirinya kuliah di ITB saat itu, belum tentu ia bisa tiba di titik kehidupan yang sangat ia syukuri seperti saat sekarang ini.

Sempat bertugas di berbagai daerah di Indonesia, Wahyu selalu berusaha bisa menebar manfaat. Berbagai penghargaan diberikan kepadanya sebagai pengakuan atas baktinya di daerah tempat ia pernah bertugas. Karya berhasil ia tetaskan bagi masyarakat, misalnya saja Festival Karao Gorontalo, yang kini teah jadi agenda nasional rutin, dan Tasikmalaya Creative Festival. Dua ajang di atas merupakan buah pemikiran Bank Indonesia yang diwakili Wahyu Purnama A saat itu.

Sekarang, meskipun harus bolak-balik menengok keluarga karena istri yang seorang dokter dan bertugas di Kementerian Kesehatan , Diana Faizah, dan tiga puterinya tidak berada di sampingnya selalu, serta tetap menjalankan kewajiban menjaga orang tua di Kota Payakumbuh, Wahyu menjalankan seluruh tanggung jawab secara maksimal. Jakarta-Padang-Payakumbuh kini jadi rute tetap yang tidak bisa dilewatkan setiap pekan, demi tugas sebagai pemimpin dalam keluarga dan pemimpin di bidangnya untuk masyarakat.  (*)

 

 

 

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2021