Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit saat membuka acara Desiminasi Inovasi Daerah, Ancaman LGBT, Antisipasi serta Penanganannya di Auditorium Sumbar, Padang, Kamis (27/12/2018). (Ist)


Hukum

Pelaku LGBT di Sumbar Capai 10.507 Orang

PADANG (SumbarFokus)

Perilaku menyimpang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) terus mengancam generasi muda di Sumatera Barat (Sumbar). Menurut data dari Tim Konselor Sumbar, dari Januari-Maret 2018 angka kasus HIV/Aids meningkat menjadi 10.507 orang.

Sebaliknya, data dari Rumah Sakit Umum Pusat M.Djamil Padang, Sumbar, saat ini terdapat 1.860 orang sudah terkena HIV/Aids yang mayoritas disebabkan perilaku LGBT di provinsi setempat.

"Selama ini data kita tutup-tutupi, sekarang kita buka agar ada Perda yang mengatur, sebab LGBT ini harus ditangani serius, ancaman penyakit ini bukan main-main," kata Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit pada SumbarFokus.


Menurut Nasrul, perilaku LGBT ini penyebarannya dilakukan secara massif dan berkembang dengan peningkatan yang sangat signifikan di beberapa kabupaten/kota di Sumbar.

"Tentu ini sangat mencoreng ranah Minang yang dikenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah selama ini," kata dia.

Wagub Sumbar ini bahkan tersentak dengan ingatan sejarah kaum Luth yang dihancur Yang Maha Kuasa, yang dikhawatirkan menimpa masyarakat Sumbar nantinnya. Sebab itu pula ia komitmen untuk memerangi perilaku LGBT ini, agar tidak terus menggerogoti generasi Minangkabau.

“Pemprov Sumbar bersama DPRD saat ini sedang melakukan proses penyiapan regulasi, untuk menekan dan mengendalikan penyebaran LGBT di Sumbar, dan bahkan Pemko Pariaman telah ada Peraturan Daerah (Perda) LGBT,” ungkapnya.

Ia menegaskan, sasaran korban dari Pelaku LGBT yakni anak-anak yang sedang mencari jati diri, dari kalangan siswa SMP, SMA, bahkan mahasiswa. Parahnya korban yang terjerat jadi pelaku akan mencari korban yang baru pula secara berantai.

“Kita tidak berkeinginan generasi muda Sumbar rusak parah karena pengaruh buruk LGBT. Maka perlu antisipasi dini  orang tua, guru,  dosen dan staf pengajar lainnya sebagai benteng masuk pengaruh LGBT,” imbau Nasrul.

Sementara Kepala Balitbang Dr. Reti Wafda, MTP mengatakan, persoalan LGBT sangat berkaitan dengan peningkatan jumlah penderita HIV/Aids, yang tiap tahun terus mengalami peningkatan.

Menurutnya, hasil Survei Terpadu Biologis Perilaku dari Tahun 2007, 2011 dan 2015, terdapat prevalensi HIV tertinggi terlihat pada tahun 2015 pada kelompok pengguna napza suntik (penasun), yakni sebanyak 5,33% dari 2007 meningkat menjadi 25,80% pada tahun 2015. (005)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018