Ilustrasi. (Foto: Ist.)


Pariwisata

Pariwisata Dihantam Corona, Akademisi: Butuh Waktu Dua Tahun untuk Pulih

PADANG (SumbarFokus)

Pelaku pariwisata di Sumatera Barat (Sumbar) sangat merasa dihantam oleh pandemi COVID-19. Sejumlah hotel dikabarkan terpaksa tutup sementara karena tidak sanggup menanggung biaya operasional. Ribuan pekerja di bidang ini bahkan harus dirumahkan, dan kebanyakan tanpa dibayar.

Demikian disampaikan oleh Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Wilayah Sumbar Alan Maulana Yusran, Selasa (7/4/2020).

"Hotel jelas sangat terpukul, dari 110 hotel anggota PHRI di Sumbar, sampai hari ini sudah 26 hotel yang memilih untuk tutup," ungkapnya.


Berdasarkan kondisi ini,  PHRI meminta Pemerintah untuk memberikan stimulus nyata terhadap hotel dan restoran, agar  beban biaya selama masa tanggap darurat ini bisa diminimalisir. Misalnya dalam bentuk keringanan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan atau pembayaran listrik.

"Ini sangat membantu hotel, tapi kalau yang dipotong adalah pajak hotel dan restoran, sama saja tidak ada arti, karena biasanya pajak tersebut dibebankan ke tamu," kata Alan.

Selain hotel dan restoran,  pramuwisata juga mengalami dampak yang besar. Bahkan hampir seluruh pemandu wisata tidak lagi beraktivitas. Diungkapkan juga, ratusan anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) saat ini merasa sangat tertekan.

"Mereka terpaksa berada di rumah, karena tidak ada lagi job dari agen travel," imbuh ketua HPI Sumbar Buddy.

Diakui, masa resesi panjang akan dirasakan, karena sulit memprediksi kapan wabah ini berakhir.

Butuh dua tahun untuk pemulihan pariwisata Sumbar

Kita Peduli!

Sementara, Akademisi Universitas Andalas (Unand) Sari Lenggogeni menilai butuh waktu setidaknya hingga dua tahun untuk memulihkan kembali sektor pariwisata di Tanah Air yang saat ini terpukul akibat wabah COVID-19.

Dijelaskan, sektor pariwisata amat rentan terhadap bencana alam dan krisis, saat ini yang terjadi adalah krisis bidang kesehatan yang membuat minat orang berwisata turun drastis. 

Menurutnya mengacu kepada data yang dilansir WTO yang merupakan badan PBB yang membidangi pariwisata kondisi ini setara dengan penurunan turis selama tujuh tahun dari angka yang ada saat ini.

Ia menilai saat ini dunia berada dalam ketidakpastian karena belum ada obat yang jelas mengatasi dampakcorona membuat minat wisata menjadi turun.

"Ini bukan hanya masalah Indonesia melainkan persoalan dunia," ujarnya.

Oleh sebab itu, saat ini yang bisa dilakukan adalah mengevaluasi pengembangan pariwisata selama ini dan prioritas utama adalah keselamatan bersama. Jika sudah ada regulasi yang baik maka akan bisa masuk pada tahap pemulihan. (000/002)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018