Ketua MUI Sumatera Barat Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa. (Foto- Ist.)


Lain-lain

Panik Soal Dukhan? Ini Penjelasannya dari MUI

PADANG (SumbarFokus) 

Soal dukhan (bahasa Arab: kabut/asap tebal) yang belakang viral di media sosial, disebut-sebut sebagai pertanda hari akhir dan tepatnya jatuh pada 15 Ramadan Hijriah, Jumat (8/5/2020), merupakan hal yang dalam konteks viralnya saat ini tidak dapat dibenarkan.

Seperti dijelaskan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia wilayah Sumatera Barat (Sumbar) Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa pada SumbarFokus, Kamis (7/5/2020) dini hari, perkara alamat (tanda-tanda) hari kiamat itu memang diperingatkan oleh Nabi,  yang bisa ditemukan dalam berbagai riwayat. 

"Kategori riwayatnya ada yang shahih dan ada yang dha'if (red-lemah), bahkan ada yang maudhu' (red-palsu).  Adapunterkait dengan ada dukhan sebagai tanda dekatnya kiamat, memang pendapat mayoritas ulama. Hanya saja penentuan tanggal dan bulan seperti yang sekarang tersebar, itu merujuk kepada riwayat yang tidak ada ashalnya dari Nabi sallallahu 'alayhi wassalam. Di antara riwayat tersebut ada yang disandarkan kepada Ibnu Mas'ud dan Abu Hurairah. Riwayat itu sebenarnya terkait dengan shai'hah (red-gemuruh) yang terjadi di bulan Ramadan. Itulah yang menjadi rujukan cerita ini. Padahal riwayat tentang shaihah itupun telah lama diperingatkan oleh para ulama, seperti al 'Uqailiy dan Ibnul Jauziy bahwa hadits-hadits itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang dicap pendusta, munkar, dan haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah," urai Buya Gusrizal panjang lebar pada SumbarFokus.


Ditegaskan, perlu diingat bahwa tentang peristiwa yang akan datang adalah suatu yang ghaib dan masuk dalam ranah keimanan. Kaidah beriman dengan yang ghaib, sebut Gusrizal, harus bersandar kepada berita yang shahih.

"Kalau dalilnya saja sudah tidak shahih, tentu itu bukanlah bagian yang harus diimani. Kehadiran dukhannya, iya. Tapi, memastikan tanggalnya dan bulannya, itu dakwaan dan dugaan semata yang tidak patut dilakukan oleh seorang yang berilmu," tegas Buya.

Dicontohkan, Rasulullah dalam hadits shahih, ketika ditanya oleh Jibril tentang kapan kiamat, Beliau malah menjawab 'yang ditanya, tidak lebih tahu dari yang menanya.'

Memperingatkan umat agar senantiasa bersiap diri dengan amal shalih dalam menghadapi kematian dan kiamat, menurut Gusrizal, adalah suatu hal yang baik asal jangan berlebihan sehingga jatuh kepada dugaan-dugaan yang tidak berdasar.

"Kita semua harus bersiap diri menghadapi ketentuan Allah subhanahu wa ta'ala di dunia ini. Kalau bukan kiamat besar, kiamat kecil (kematian) pasti akan kita temui. Wallahu a'lam," sebut Buya.

Senada dengan Buya Gusrizal, Sekretaris Jenderal MUI Pusat Anwar Abbas di Jakarta, Rabu (6/5/2020) sebelumnya, juga menegaskan bahwa dalam hal ini, umat tidak perlu panik dengan viralnya soal dukhan, serta terus fokus dengan perbaikan diri dan melakukan segala urusan secara seimbang.

Kita Peduli!

"Kiamat itu urusan Allah dan bukan urusan kita. Jadi mari kita urusi apa yang menjadi tugas kita dan jangan kita urusi apa yang menjadi urusan Allah," sebut Anwar.

Secara substansial, Anwar mengajak umat Islam dan masyarakat untuk selalu mempersiapkan diri dengan amalan baik, sehingga kapanpun kiamat itu terjadi akan siap karena tidak ada petunjuk tanggal pasti hari akhir.

Umat Islam, kata dia, selalu mengimani jika kiamat memiliki dua jenis yaitu kiamat kecil dan kiamat besar. Kiamat besar adalah hari akhir sesungguhnya, sementara kiamat kecil itu sebagaimana kematian dari masing-masing individu manusia.

"Oleh karena itu, yang penting bagi kita lakukan adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kiamat kecil yaitu kematian dari diri kita masing-masing," katanya.

Di sisi lain, diketahui bahwa Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga menyebut akan ada asteorid yang akan melintasi bumi pada Jumat (8/5/2020), namun asteroid ini berkategori aman dan tidak membahayakan bumi. (002/Hms-Sumbar)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018