Ketua Umum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa. (Foto: Ist.)


Lain-lain

MUI Sumbar: Tidak Usah Tunda Pembahasan RUU HIP, Kuburkan dan Anggap Tidak Pernah Ada!

PADANG (SumbarFokus)

Ditundanya pembahasan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila oleh Pemerintah tidak lantas membuat Majelis Ulama Indonesia Wilayah Sumatera Barat (Sumbar) tenang. Ditegaskan oleh Ketua Umum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa, MUI Sumbar tetap akan menolak RUU HIP ini, apalagi jika sampai disahkan sebagai Undang-undang.

“Kebutuhan bangsa ini tidak ada sama sekali dengan RUU tersebut, bahkan bencana keretakan yang akan menimpa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, la qadarallah. Ini karena dasar negara, Pancasila, diperas, diselewengkan, dan di rendahkan kedudukannya,” sebut Buya Gusrizal, saat diwawancara SumbarFokus, Sabtu (20/6/2020).

Menurut Buya Gusrizal, keputusan ini sudah merupakan kesepakatan bersama MUI seluruh daerah, dari 19 kabupaten dan kota yang ada di Sumbar.


“Ulama Sumbar menuntut RUU HIP dihentikan, bukan dtunda, karena isi Maklumat MUI adalah menolak tanpa kompromi. Tidak usah tunda pembahasan RUU HIP. Kuburkan saja, dan anggap tidak pernah ada!” tukas Buya.

Buya berpesan kepada para pemegang kekuasaan dan kewenangan di negeri ini, MUI Sumbar mengingatkan para penguasa, terutama yang muslim, untuk mengingat firman Allah dalam surah Al Furqon ayat 73.

“Jadilah orang yang mau mendengar, yang mau melihat. Jangan tulikan telinga. Jangan butakan mata, ketika diberikan peringatan. Perlu saudara saudara ingat, bahwa yg dituntut oleh para ulama Kami, bukan penundaan RUU HIP, tapi pembatalan. Kuburkan, jangan diingat lagi. Karena RUU HIP itu telah cacat secara semula,” ditegaskan lagi.

Menurutnya, MUI Sumbar menangkap maksud dan tujuan untuk apa RUU itu dibuat, bahwa apa yang menjadi motivasi munculnya RUU HIP itu sudah bisa dipahami oleh para ulama yang ada di MUI Sumbar.

“Semua kita telah membaca cacatnya substansi yang ada di dalamnya. Berhentilah bermanuver, berhentilah mempermainkan perasaan bangsa,” sebutnya lagi.

Disebutkan, Pancasila ada kesepakatan kebangsaan, yang tidak boleh didikte satu pihak. Apabila satu komponen bangsa ingin mendiktenya, maka komponen lain bsia menganggap bahwa mereka tidak harus terikat dengan kesepakatan itu lagi.

Kita Peduli!

“Berarti Saudara meretak kebersamaan. Mengantarkan umat ini ke dalam pertikaian yang entah kapan selesai. Sadari itu!” Buya menyampaikan dengan penuh penekanan.

Menurut Buya, RUU tersebut juga cacat dari landasan historis, karena telah menggiring Pancasila kepada pemahaman seorang tokoh bangsa. Sedangkan Pancasila adalah rumusan bersama, kesepakatan bersama. Nilai nilainya diambil dari nilai-nilai yang hidup dari seluruh daerah yang terhimpun di indonesia.

Ranah Minang sendiri, dikatakan, menyumbang tiga putera terbaiknya untuk ikut merumuskan, yaitu Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan Haji Agus Salim.

“Karena itu, Pancasila bukan milik seseorang. Bukan pula ditundukkan kepda pemahaman seseorang, dia adalah kesepakatan bersama, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, kembalikan Pancasila itu, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukan UUD 1945, dan pahami sebagaimana yang ada dalam Pembukaan tersebut, dan sebagaimana dijabarkan dalam batang tubuh UUD itu,” tutur Buya lagi.

Jika RUU HIP tetap juga akan dibahas, dan akhirnya bisa disepakati, maka MUI Sumbar meyakini bahwa ada potensi penyesalan bangsa karena telah menghadirkan perpecahan.

“Bisa jadi catatan buruk kehidupan berbangsa. Maka, hentikan pembahasan. Kubur dia! Jangan lagi dibahas. Anggap tidak pernah muncul. Kalau memang sepakat untuk menjaga keutuhan NKRI!” pungkas Gusrizal. (003/Hms-Sumbar)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018