Workshop Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Sekolah se-Sumbar di Aula Disnakertrans Sumbar, Senin 20 Agustus 2018 yang lalu. (Foto: Wahyu)



Monitori Pola Asuh dan Kualitas Tontonan Anak

Kalau keluarga ibarat sebatang pohon, anak merupakan tunas dengan berbagai potensi yang akan menjadi penerus rindangnya masa depan keluarga. Anak, akan menjadi generasi tumpuan keberlangsungan Indonesia akan datang. Maka lunasi hak-haknya, jangan rampas masa depannya dengan tayangan tak bernyawa.

 

Oleh Wahyu Saputra

PADANG- Setiap orang tua ingin anaknya menjadi sesuatu yang membanggakan, sebab ia merupakan generasi yang akan menyambung kehidupannya di masa akan datang kelak. Maka sebab itu pula, banyak orangtua yang memanjakkan buah hatinya dengan memberikan kasih sayang, rasa aman, kenyamanan, dan bahkan pendidikan yang terbaik.


Namun sayangnya, banyak pula orang tua yang kurang awas dalam memonitor perilaku, kegiatan, dan kepribadian anaknya dengan berbagai dalih alasan klasik. Misalnya sibuk kerja, banyaknya kegiatan dengan kolega, dan bahkan seakan-akan tidak ada waktu luang untuk anaknya sendiri.

Padahal, memonitor keseharian anak merupakan kewajiban orang tua. Sebaliknya, mendapatkan perlindungan, rasa aman, pengayoman, kesehatan, dan pendidikan yang layak merupakan hak bagi setiap anak. Maka, setiap orang tua harus mengerti posisinya sebagai orang tua yang bertanggungjawab bagi kehidupan yang layak bagi anaknya.

Berdasarkan pemaparan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Ratna Wilis mengatakan bahwa sebanyak 60 persen anak di Sumbar mengalami kekerasan. Data tersebut menunjukkan kekerasan dan pelecehan seksual menjadi dominan, yakni mencapai 50 persen.

Kadis DP3A ini menyebutkan kekerasan ini terjadi pada anak dengan rentang usia dari 0-18 tahun. Mirisnya, kekerasan pada anak ini sudah menyebar luas di kabupaten/kota di Sumbar. Dikatakannya, sampai di tahun 2018 ini, seluruh kekerasan termasuk pada anak, sudah lebih 40 kasus yang ditanganinya.

“Kami terus berupaya mencari langkah terbaik untuk penanganan kasus kekerasan terhadap anak ini, dan sudah 40 tahun kami tangani,” ujar Ratna usai pembukaan Workshop Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Sekolah se-Sumbar di Aula Disnakertrans Sumbar, Senin 20 Agustus 2018 yang lalu.

Dalam usaha pencegahan, pihaknya sudah mendirikan sekolah ramah anak dengan memberikan SK Gubernur untuk 19 SMA di 19 kabupaten/kota di Sumbar. Dengan harapan sekolah-sekolah ini akan dijadikan percontohan sekolah ramah anak, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, dan proses belajar mengajar. Tujuannya agar sekolah itu betul-betul memberikan hak anak, terutama agar tidak terjadi kekerasan.

Kita Peduli!

Sementara Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno pernah menyebutkan bahwa dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak ini, harus dilakukan persamaan persepsi. Selama ini katanya, banyak orang tua dan guru mendidik anak kekerasan yang akan berakibat fatal pada masa depan anak.

Ia menambahkan, setiap anak mempunyai hak asasi, termasuk kemauan dan kemampuan. Jika anak “melenceng” setelah dewasa merupakan manifestasi dari lingkungan, baik orang tua, sekolah, dan masyarakat. Jika ketika kecil menumbuhkankembangkan kelembutan, pasti anak juga akan bersikpa lembut dan sopan, sebab kelakuan anak merupakan cerminan didikan yang diberikan orang tua, lingkungan, dan guru di sekolah.

Dengan tegas Irwan mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tua dan guru, agar tidak semena-mena memperlakukan anak. Baik dalam menyuruh, mendidik, apalagi menasihati anak. Jika ada paksaan kepada anak, justru anak akan tambah tertekan. Jadi berikanlah hak asasi anak dengan penuh kasih sayang untuk menciptakan generasi cemerlang.

“Mendidik itu dengan hati, dan penuh hati-hati, agar jangan sampai makan hati suatu saat nanti,” pesan Irwan di hadapan peserta Workshop Pencegahan Terhadap Anak se kabupaten/kota, komite sekolah, guru BK, Forum Anak di Sumbar, serta beberapa lembaga waktu itu.

 

 

Pola Asuh yang Baik

Perkembangan anak sangat dipengaruhi beragam faktor. Salah satunya ialah lingkungan dan pola asuh orang tua dalam mendidik. Tanpa pemberian kasih sayang yang baik, maka potensi anak tidak akan mampu berkembang secara baik pula. Kasih sayang orang tua sangat mempeangruhi kecerdasan anak, terutama ketika anak memasuki usia emas mereka. Jadi interaksi yang baik antara orang tua dengan anak akan mampu mengoptimalkan segala kemampuan yang dimiliki anak.

Tapi sayangnya, zaman melineal saat ini orangtua banyak yang mengabaikan pentingnya interaksi dengan anaknya. Terutama bagi orang tua yang dua-duanya mengejar karir, dan lebih mempercayakan pengasuhan anaknya kepada orang lain. Padahal, ikatan batin antara orang tua dengan anak akan bisa terjalin dengan erat, jika terdapat kegiatan interaksi yang berkesinambungan dan komunikasi yang baik.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat, Dr. Susanto menyebutkan mayoritas kekerasan dan perilaku negatif yang terjadi pada anak, disebabkan oleh pola asuh yang tidak baik. Akibatnya banyak anak yang bukan saja menjadi korban kekerasan, tapi juga sekaligus sebagai pelaku kekerasan.

Selain itu, berdasarkan pemaparan Susanto bahwa pengaruh media juga sangat berdampak besar pada perilaku dan pola pikir anak. Pasalnya, zaman sekarang dikatakan Susanto umumnya anak sebanyak 5-7 jam lebih dekat dengan media, terutama televisi dan media social disbanding dengan orangtuanya.

Maka dari itu pula, Susanto mengimbau agar orang tua hendaknya mengawasi anaknya. Jika pola asuh tidak baik, anak akan mudah berperilaku buruk, terutama dengan banyaknya pengaruh media melalui smartphone. Pernyataan itu disampaikan Susanto dalam kegiatan Literasi Media bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Padang, Sumbar, Kamis 25 Oktober 2018 kemarin.

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa sekarang media sudah menjadi bagian dari sentra pendidikan, yang dulu hanya tiga yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat. Namun pengaruh media ini bisa berdampak positif ataupun negative. Sebab perilaku penonton juga tergantung kualitas media dan jenis tontonnya.

“Kita perlu melakukan survei yang intens untuk mengetahui pengaruh media terhadap anak, sebab tidak semua perilaku anak disebabkan oleh media,” sebut Susanto waktu itu.

Dalam acara bertemakan “Memilih Siaran yang Berkualitas” itu, Susanto juga mengaku bahwa pihaknya selalu intens bekerjasama dengan pihak KPI, terutama terkait aduan kekerasan terhadap anak bahkan perilaku menyimpang bagi anak. KPI menangani terkait konten penyiaran dalam medianya, sedangkan KPAI terkait pengaruh konten medianya, sehingga keduanya harus sama-sama bersinergi.

Terakhir, Susanto juga berharap media harus lebih banyak menyajikan konten terkait pembelajaran, edukasi, dan motivasi pola asuh dan mendidik anak. Sebaliknya lebih mengurangi menampilkan pemberitaan terkait kekerasan terhadap anak. Meskipun dari sisi segi pemilik media semuanya penting ditampilkan, tapi alangkah baiknya sisi positifnya yang ditampilkan agar menjadi contoh bagi publik.

 

Perbanyak Konten Edukasi Anak

Dalam situasi zaman milenial saat ini, maraknya kehadiran media sangat mempengaruhi perilaku anak. Maka dari itu pula, Lembaga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mendorong media penyiaran, yakni televisi dan radio untuk menyuguhkan program yang ramah anak. Salah satunya dengan menciptakan konten-konten kreatif yang layak ditonton untuk anak-anak.

Pasalnya, konten-konten yang disajikan media penyiaran, terutama televisi beberapa tahun terakhir semakin merusak tumbuh-kembang pola pikir anak. Apalagi sampai saat ini sumber daya manusia (SDM) dari Indonesia menciptakan konten anak-anak ini masih minim. Misalnya saja, masih banyak film anak-anak atau karikatur yang diimpor, seperti Upin-Ipin dari Malaysia, Doraemon dari Jepang dan lainnya, yang justru jauh berbeda atau belum tentu dengan budaya anak-anak di Indonesia.

“Pelaku perfilman, pemilik, atau pegiat media memang dituntut kreatif dalam menyajikan konten-konten yang cocok bagi anak. Selama ini banyak tontonan karikatur impor yang justru berefek negative bagi anak kita,” sebut Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis dalam acara Literasi Media di Padang bulan lalu.

Berdasarkan itu pula, Yuliandre mengimbau agar media penyiaran terutama televisi, bisa menyajikan konten-konten kreatif yang ramah anak. Misalnya meningkatkan program edukasi, budaya, dan cerita anak seperti Si Bolang, Si Unyil, dan sejenisnya. Apabila ini terus dilakukan, maka konten penyiaran bagi anak akan terus membaik demi generasi yang baik dan bermutu pula.

“Jangan sampai televisi yang ada hanya heboh dengan sinetron yang membosankan, sehingga dinobatkan sinetron terpanjang di dunia. Padahal, kebanyakan isinya tidak mendidik,” sambung Yuliandre.

Lebih lanjut kata Ketua KPI Pusat ini, pihaknya saat ini diberi mandat mengawasi 16 jaringan televisi, 25 televisi kabel, dan 15 radio. Ia berharap semua media penyiaran tersebut harus bisa meningkatkan kualitas penyiarannya. Pihaknya pun terus berusaha melakukan pengawasan, agar media-media penyiaran tersebut bisa menayangkan segala hal yang memberi manfaat.

Pernyataan itu juga ikut dibenarkan oleh Rektor Universitas Andalas Tafdil Husni, yang menyebutkan bahwa 80 persen masyarakat di Indonesia dipengaruhi media televisi, baik negativ maupun positif. Pasalnya media televisi menyajikan beragam akar budaya, karakter, pendidikan,dan pola pikir melalui penglihatan dan pendengaran.

Tafdil ini juga mengakui, tidak ada yang bisa membendung lajunya penayangan di media, sebab yang berkuasa ialah pemilik media itu sendiri. Namun apapun yang disajikan media, penonton lah yang mempunyai hak sepenuhnya untuk memilah dan memilih konten yang berkualitas. Apabila medianya berkualitas, kontennya juga berkualitas maka wawasan penonton juga berkualitas.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit juga ikut mengimbau agar masyarakat dan generasi muda agat memilih siaran yang berkualitas atau mudah dimengerti. Ia juga menilai tidak semua tayangan yang muncul di layar televisi bisa memberi inspirasi dan edukasi yang baik bagi anak sebagai generasi masa depan bangsa.

Nasrul Abit juga sangat menyayangkan, banyaknya media yang menayangkan siaran yang tidak berakhlak, tidak mendidik, provokatif, bahkan hoax. Misalnya kata Wagub Sumbar ini, banyak televisi yang menayangkan pertengkaran atau carut-marut politik, dan pertengkaran di muka publik.

Tentu orang tua dituntut berpandai-pandailah memilih tontonan berkualitas yang ramah anak. Jangan sampai mudah mengajarkan dunia  provokasi bagi anak, yang justru akan mempengaruhi pola pikir anak nantinya. Bagi pemiliki media, segala siaran yang ditayangkan hendaknya juga bisa dipertanggungjawabkan.

Oleh sebab itu, perlunya sinergisitas semua pihak dalam memenuhi hak anak. Bukan hanya orangtua, tapi juga pemerintah, bahkan pemilik media, agar anak-anak Indonesia untuk menjadi generasi cemerlang akan terwujud sebagaimana mestinya. (Wartawan SumbarFokus.com)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2021