Menristekdikti Mohammad Nasir saat menjelaskan rendahnya mutu lulusan perguruan tinggi di Indonesia, usai membuka Konaspi IX di UNP, Kota Padang, Rabu (13/3/2019) malam. (Foto: Wahyu)


Pendidikan

Menristekdikti: Tutup Program Studi Tak Produktif

PADANG (SumbarFokus)
Kementerian Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus melihat perkembangan, dan peningkatan kualitas perguruan tinggi. Terutama terkait mutu lulusan dalam menghadapi persaingan di revolusi industri 4.0.
 
Terkait hal itu, Menristekdikti Mohammad Nasir mendorong setiap perguruan tinggi lebih selektif melihat lulusan program studi. Bahkan, ia juga meminta perguruan tinggi segera menutup program studi yang tidak produktif menghasilkan lulusan sesuai serapan industri kerja.
 
"Kita tentu terus mengajak perguruan tinggi untuk berubah, agar bisa menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan dunia industri," sebut Nasir dalam sambutannya sebelum membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) IX di Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (13/3/2019) malam.
 
Nasir mengungkapkan, saat ini masih banyak perguruan tinggi di Indonesia yang tidak mengindahkan perkembangan teknologi informasi, karena menganggap tidak akan pernah terjadi perubahan yang mendasar. 
 
Ia menyebutkan saat ini ada kampus perguruan tinggi yang program studinya bisa menghasilkan 80 persen lulusan diserap industri kerja. Sebaliknya, ada pula perguruan tinggi yang hanya 20 persen lulusan program studinya yang diserap oleh industri kerja. 
 
"Jika nanti tiba-tiba teknologi informasi berkembang untuk 10 tahun ke depan, dan kita belum juga melakukan perubahan, kampus bisa menjadi mati ke depannya," lanjut Nasir saat ditanyai awak media.
 
Merasa khawatir dengan hal itu, ia mengajak setiap perguruan tinggi untuk membuka program studi sesuai kebutuhan teknologi industri, dan tidak mempertahankan program studi yang tidak produktif menghasilkan lulusan berkualitas.
 
"Jangan mempertahankan program studi yang tidak produktif. Jadi program studi tidak dibutuhkan industri dan masyarakat, tolong digeser ke program studi yang lain. Dosennya kita manfaatkan untuk program studi yang lain, karena kita tidak bisa menghadapi hal ini dengan berdiam saja," tegasnya. 
 
Sebelumnya ia juga telah mencontohkan, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Indonesia mampu menghasilkan lulusan 300 ribu orang setiap tahunnya. Namun, dari jumlah tersebut hanya 125 ribu orang yang bisa diterima di dunia kerja.
 
Selain itu, ia menyampaikan masih banyak guru yang bersertifikasi tapi belum berdampak pada kualitas pendidikan. Apalagi masih banyak guru yang belum bersertifikasi, atau sedang menjalani pendidikan profesi keguruan.
 
"Hingga saat ini belum ada kolerasi antara sertifikasi guru, dengan kinerja yang baik. Bahkan, tidak ada bukti publikasi yang banyak sebagai mutu yang lebih tinggi. Maka ini mesti kita perbaiki bersama," sebutnya
.
Terakhir, Nasir juga menyadari bahwa persaingan LPTK saat ini semakin ketat. Sebaliknya, Indonesia justru juga ingin melahirkan guru dan tenaga pendidik yang profesional serta berkualitas. Maka ia sangat berharap, Konaspi IX ini bisa memberikan solusi dan ide cemerlang untuk dunia pendidikan nantinya.
 
"Angka Partisipasi Kasar (APK) masih rendah, yakni 34,58 persen jauh kalah dari Malaysia 38 persen, dan Singapura 78 persen, karena mereka melakukan perubahan di dunia pendidikan serta sistem pendidikan. Jadi kita memang dituntut melahirkan inovasi baru," pungkas Nasir. (005)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018