Ilustrasi. (Foto: Ist.)


Ekonomi

LKAAM Sumbar Imbau Pedagang Ubah Nama Ekstrem Menu Makanan

PADANG (Sumbar)

Nama-nama ekstrem menu makanan yang dijual di rumah makan atau pedagang kuliner lainnya diimbau Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat (Sumbar) untuk diubah menjadi nama yang sesuai dengan norma dan adat istiadat.

"Karena penamaan tersebut tidak sesuai dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah atau adat berdasarkan agama, agama berdasarkan kitab Allah," kata Ketua LKAAM Sumbar M Sayuti Datuak Rajo Pangulku, Rabu (16/10/2019).

Dijelaskannya, dalam syarak juga telah ditegaskan bahwa setiap perkataan itu ialah doa dan dianjurkan supaya berkata yang baik-baik atau jika tidak mampu maka lebih baik diam.


"Tentunya penamaan seperti Mie Setan, Mie Patuih, Mie Pedas Gila, Kafe Ayam Geprek Neraka, Mie Padeh Neraka, Ayam Tapakiek, dan Mie Judes Neraka, tidak sesuai atau bertentangan dengan norma dan adat istiadat," tutur M Sayuti.

Nama alternatif lain bisa dipakai, menurutnya, seperti nama suku di Minangkabau melayu, caniago, tanjuang, guci atau menggunakan nama sesuai gelar di Minangkabau seperti Datuak, Mandaro, Rajo, dan masih banyak lagi ide untuk penamaan rumah makan yang sesuai dengan adat Minangkabau.

"Atau penamaan tingkat level pedasnya dirubah dengan menggunakan bahasa Minang yang lebih kreatif misalnya padeh bana (pedas sekali), sadang elok (sedang), indak padeh (tidak pedas), saya rasa lebih menarik," tambah dia.

Ia juga membenarkan pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat sebelumnya memfatwakan penggunaan nama yang tidak sesuai syariah untuk produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, dan pakaian dilarang di dalam Islam.
Bahkan menurutnya pernyataan Ketua Umum MUI Sumbar Gusrizal Gazahar tentang penamaan rumah makan kalau menyangkut hal-hal yang prinsip di dalam Islam terkait soal akidah seperti kata neraka, setan, dan iblis hukumnya haram telah sesuai dengan aturan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
"Saya setuju dengan pernyataan MUI Sumbar, karena berdasarkan pituah adat Minangkabau, difatwakan alim ulama (MUI), diteliti cadiak pandai (Pemerintah), dijalankan niniak mamak (Ninik mamak), didukung Bundo kanduang dan diparik paga nagari (dilakukan oleh anak muda)," ujar M Sayuti.

Diimbau juga kepada masyasarakat konsumen, jika rumah makan yang bersangkutan masih menggunakan penamaan yang sama, maka sebaiknya tidak usah dibeli karena haram dimakan sebagaimana yang difatwakan alim ulama atau MUI Sumbar.

"Namun jika masih ada yang membeli, berarti mereka bukan orang Minangkabau," ujar M Sayuti menekankan. (002)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018