Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno saat membukaan Workshop Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Sekolah se-Sumbar di Aula Disnakertrans Sumbar, Senin (20/8/2018). (Foto: Wahyu)


Hukum

Lebih Separuh Anak di Sumbar Alami Kekerasan

PADANG (SumbarFokus)

Sebanyak 60 persen anak di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengalami kekerasan. Kekerasan ini terjadi pada anak dengan rentang usia dari 0-18 tahun.

Berdasarkan data, kekerasan dan pelecehan seksual menjadi dominan, yakni mencapai 50 persen.

Ini dikatakan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sumbar, Ratna Wilis, Selasa (21/8/2018).


“Kekerasan pada anak ini sudah menyebar luas di kabupaten dasn kota di Sumbar. Tapi di tahun 2018, seluruh kekerasan termasuk pada anak, sudah ditangani 40 kasus,” kata Ratna.

Untuk mengatasi hal itu, kata dia, pihaknya pada Senin (20/8/2018) lalu mengadakan Workshop Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Sekolah se-Sumbar, yang diadakan di Aula Disnakertrans Sumbar.

Sementara dalam usaha pencegahan, kata dia menambahkan, pihaknya sudah mendirikan sekolah ramah anak dengan memberikan SK Gubernur untuk 19 SMA di 19 kabupaten/kota di Sumbar.

Menurutnya, sekolah ini akan dijadikan percontohan sekolah ramah anak, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, dan proses belajar mengajar.

“Kita berharap sekolah ini sebagai percontohan bagi sekolah lain, yakni sekolah yang betul-betul memberikan hak anak, agar tidak terjadi kekerasan,” tambahnya.

Pada Workshop Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Sekolah se-Sumbar itu Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno menyebutkan, dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak ini, harus dilakukan persamaan persepsi. Selama ini katanya, banyak orangtua dan guru mendidik anak dengan kekerasan yang akan berakibat fatal pada masa depan anak.

Kita Peduli!

“Kelakuan anak setelah besar, itu cerminan didikan yang diberikan orangtua dan guru. Jika ketika kecil menumbuhkankembangkan kelembutan, pasti anak juga akan bersikap lembut dan sopan,” jelas Irwan.

Ia menambahkan, setiap anak mempunyai hak asasi, termasuk kemauan dan kemampuan. Jika anak “melenceng” setelah dewasa merupakan manifestasi dari lingkungan, baik orangtua, sekolah, dan masyarakat.

“Jangan semena-mena pada anak, baik dalam menyuruh, atau mendidik. Jika ada paksaan, anak justru tambah tertekan. Berikanlah hak asasi anak dengan penuh kasih sayang untuk menciptakan generasi cemerlang,” pesan Irwan.

Turut hadir workshop tersebut, perwakilan kabupaten/kota, komite sekolah, guru BK, Forum Anak di Sumbar, serta beberapa lembaga lainnya. (005)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020