Kecelakaan kereta api di Padang, Rabu (4/3/2020). (Foto: Ist.)


Peristiwa

Lagi-lagi Kecelakaan KA di Padang, PT KAI Sumbar Imbau Masyarakat Patuhi Rambu

PADANG (SumbarFokus)

Kecelakaan kereta api terjadi lagi di Kota Padang, Rabu (4/3/2020). Kali ini, Kereta Api (KA) Minangkabau Ekspres (B26) menghantam mobil pick up, mengakibatkan pengendara mobil luka berat. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawa korban ternyata tidak bisa tertolong.

Diuraikan oleh Kepala Humas PT KAI Divre II Sumbar M. Reza Fahlepi, kecelakaan ini bermula saat sebuah mobil pick up melewati perlintasan liar yang ada di kawasan Koto Tangah km 17+900 lintas Tabing-Duku.

"Pada waktu yang bersamaan, dari arah Padang menuju BIM datang KA Minangkabau Ekspres B26, mengakibatkan KA Minangkabau Ekspres (B26) tertemper mobil pick up tersebut. Akibat dari kejadian tersebut, satu orang korban mengalami luka berat dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit," terang Reza.


Dengan kejadian ini, Reza menyebut, PT KAI lagi-lagi mengimbau agar seluruh pengguna jalan raya mau mematuhi rambu-rambu lalu lintas saat akan melewati pelintasan sebidang. 

"Banyak pihak yang dirugikan apabila terjadi kejadian serupa, tidak saja pengemudi sebagai korban kecelakaan, PT KAI pun dirugikan dengan rusaknya sarana KA dan keterlambatan KA. Untuk mewujudkan keselamatan di pelintasan sebidang dan meminimalisir terjadinya kecelakaan, PT KAI bersama dengan pemerintah setempat serta Kementerian Perhubungan, dalam hal ini DJKA, terus melakukan sosialisasi keselamatan pelintasan sebidang dan penutupan perlintasan liar. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kesadaran dan pemahaman pengguna jalan raya terhadap peraturan keselamatan perjalanan KA di pelintasan sebidang," sebutnya.

Dijelaskan, perlintasan sebidang sendiri merupakan perpotongan antara jalur KA dan jalan yang dibuat sebidang.

"Perlintasan sebidang tersebut muncul dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan pribadi yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan KA. Hal ini memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang," tutur Reza.

Ditambahkan, sesuai Undang-Undang (UU) No. 22 Tahun 2009, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 114 menyatakan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur KA dan jalan, pengemudi kendaraan wajib: 

a. Berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu KA sudah mulai di tutup dan atau ada isyarat lain.

Kita Peduli!

b. Mendahulukan KA, dan; 

c. Memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel.

Reza menambahkan, selain itu juga, UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 94 menyatakan bahwa untuk keselamatan perjalanan KA dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup. Selanjutnya penutupan perlintasan sebidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.

"Diharapkan juga peran Pemda melakukan penutupan perlintasan sebidang yang membahayakan masyarakat, pengamanan perlintasan sebidang agar tidak membahayakan pengguna jalan seperti dengan pemasangan rambu atau marka, pemasangan pintu perlintasan, dan menempatkan penjaga pintu perlintasan," pungkas Reza. (013/000)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      sumbar