Anggota komunitas bersepeda G3RM. (Foto: Ist.)


Gaya Hidup

Komunitas G3RM Konsisten Bergerak, Kini Kembangkan Perhatian ke Bidang Sosial dan Sadar Bencana

PADANG (SumbarFokus)

Lima tahun beridiri, komunitas bersepeda, atau yang dikenal dengan gowes, Go Gowes Genre Ranah Minang (G3RM), masih tetap konsisten dengan gerakan bersepedanya yang dilakukan dua kali dalam sebulan. Selain itu, komunitas ini juga mulai mengembangkan perhatian ke bidang sosial dan sadar bencana.

Ini disampaikan oleh inisiator G3RM, yang juga merupakan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) BKKBN Pusat, Nofrizal, baru-baru ini, kepada SumbarFokus.com. Mantan Kepala BKKBN Sumbar ini mengungkapkan bahwa kegiatan mengayuh sepeda yang dilakukan rutin oleh komunitas tersebut tak hanya fokus pada tujuan olahraga saja, namun banyak hal yang bisa dilakukan.

 Disebutkan, 3GRM, yang bermarkas di BKKBN Sumbar itu, juga melakukan kegiatan kunjungan Kelompok Kegiatan (Poktan) Program Bangga Kencana (Pembangunan Kekuarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana) seperti kelompok dan kader Bina Keluarga Balita; Kelompok Bina Keluarga Remaja; Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor; Pusat Informasi Konseling Remaja; Kelompok Bina Keluarga Lansia; Kelompok Posyandu; dan lembaga swadaya masyarakat yang menjadi tulang punggung suksesnya program Bangga Kencana.


“Komunitas sepeda 3G Ranah Minang akan terus mengembangkan pola pendekatan ke bidang bidang sosial dan sadar bencana, karena bersepeda juga sekaligus ikut melestarikan lingkungan dan menghirup udara bersih tanpa terlalu banyak polusi,” ucap mantan Sekretaris Utama dan Deputi Advokasi Komunikasi Informasi dan Edukasi BKKBN ini.

Disebutkan juga oleh Nofrijal, kegiatan gowes yang marak di Sumbar, terlebih lagi sejak wabah COVID-19 melanda, bisa pula mendorong hidupnya wisata kuliner yang ujungnya pada pergerakan perekonomian.

Di hari- hari libur terutama di akhir pekan, komunitas gowes berlalu lalang hilir mudik di jalan wisata di Kota Padang, Nofrijal mencontohkan. Sementara, jalan wisata di daerah Pantai Padang juga telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti adanya dua masjid megang di dua ujung jalan, yaitu Masjid Al Mujahiddin dan Masjdi Al Hakim.

“Selain itu, banyak warung, rumah makan, serta lapak suvenir di pinggir jalan,” imbuhnya.

Kondisi ini, dikatakan, merupakan satu bentuk dari bagian dinamika wisata pantai, yang bisa mendorong usaha kecil dan mikro khususnya jajanan kampung atau tradisional tumbuh mengikuti perkembangan orang dan seleranya.

“Para perantau Kota Padang dan Sumatera Barat rindu pulang ke kampung karena ingin merasakan enaknya katupek pitalah, lamang jo tapai, sala lauak, sarabi bakuah,  lompoang sagu, cindua durian, sate sapi, teh talua, dan lainnya,” kata Nofrijal. (000)

Kita Peduli!

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020




      gaya-hidupsumbar