Ketua ASITA Sumbar Ian Hanafiah. (Foto: Ist.)


Ekonomi

Kepariwisataan Tergadai Transportasi Udara, ASITA Harapkan Kepala Daerah Vokal

PADANG (SumbarFokus)

 

Harga avtur telah mengalami penyesuaian sejak 16 Februari kemarin. Namun kondisi transportasi udara, menurut Asosiation of Indonesian Tour and Travel Agencies (ASITA) Sumatera Barat (Sumbar), masih tergadai oleh cost yang relatif tetap tinggi. Karena itu, ASITA Sumbar tetap akan melakukan aksi, bersama dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ASITA se-Indonesia, ke Istana untuk menyuarakan kesedihan para pelaku usaha di bidang Tour and Trave Agency.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua ASITA Sumbar Ian Hanafiah pada SumbarFokus saat dikunjungi di ruang kerjanya, baru-baru ini. Dia mengatakan, ASITA Sumbar tidak mengurungkan niat untuk turut serta dalam aksi unjuk rasa ASITA nasional yang akan dilakukan 28 Februari mendatang.


Menurut Ian, bermula dari relatif mahalnya harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar, efek domino yang muncul di dunia kepariwisataan di Sumbar sangat besar dan memberi pengaruh negatif. Bahkan, menurut dia, tingkat kunjungan wisatawan nasional ke Sumbar menurun drastis berikut juga jual-beli oleh-oleh yang otomatis dipengaruhi oleh sistem bagasi berbayar.

 “Harapan ASITA, kita tidak berjuang sendiri. Ini butuh perhatian dan bantuan dari gubernur atau kepala daerah serta koordinasi ASITA seluruh Indonesia, khususnya daerah-daerah yang memiliki destinasi wisata andalan. Kenapa ini juga butuh perhatian dari kepala daerah atau gubernur? Karena ini berdampak juga kepada masyarakatnya. Misalnya Provinsi Sumatera Barat, yang mengandalkan berbagai destinasi wisata untuk kemajuan ekonomi daerah,” urai Ian.

Menurut Ian, meski beberapa maskapai melakukan penurunan harga tiket pesawatnya, namun hasil yang diharapkan belum signifikan.

“Kepala daerah atau gubernur harus aktif dan action ke tingkat pusat, apakah ke Kementrian atau sampai ke Presiden,tegas Ian.

Ia mengatakan, bagasi berbayar yang sangat dramatis ketetapannya, tidak hanya memberi rasa tidak nyaman penumpang, namun memberi dampak sangat merugikan bagi daerah, terutama Sumbar, yang sedang gencar dengan wisata halalnya.

“Beberapa bulan ini, angka kunjungan wisatawan menurun,  bandara sepi, omset UMKM yang terlibat pariwisata menurun. Perbandingan harga tiket pesawat tujuan domestik relatif tidak jauh berbeda dengan harga tiket pesawat tujuan keluar negeri seperti negara kawasan ASEAN. Maka, dari itu banyak wisatawan domestik yang lebih memilih berwisata luar negeri seperti ke Malaysia,Singapura dan Thailand,” papar Ian lagi.

Kita Peduli!

ASITA Sumbar, disebutkan, telah mengirim surat kepada Gubernur Sumbar, untuk bersama menyuarakan upaya stabilisasi dan penurutan harga tiket pesawat serta bagasi berbayar secara signifikan agar angka kunjungan wisatawan ke Sumbar dan perekonomian masyarakat di kawasan destinasi wisata kembali meningkat.

“Yang terjadi sekarang, wisatawan domestik malah berkunjung ke luar negeri. Kita kecolongan devisa dikarenakan harga tiket pesawat ini dan bagasi berbayar ini. Meskipun harga tiket sudah normal, namun soal bagasi berbayar tetap jadi kendala. Yang dirugikan adalah pelaku UMKM dan masyarakat yang berada di wilayah destinasi wisata terkait,” ujarnya. (006)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020