Kurator karya seni rupa, Yusuf Fadly Aser, berpose dengan karya yang diberi judul "Jalur dan Alur", karya yang mengkolaburasikan media kanvas dan kain untuk pesan yang ingin disampaikan. (Foto: YEYEN)


Gaya Hidup

Jalur Rempah dalam Bingkai Seni Rupa di PKD Sumbar, Jaga Sejarah dengan Karya Berbasis Riset

PADANG (SumbarFokus)

Ternyata, karya seni rupa tak hanya menyajikan pesan-pesan seni seperti keindahan atau keharmonisan olahan tangan perupa. Lebih dari itu, karya-karya dari seniman perupa juga mampu mengusung muatan sejarah yang bisa mempersuasi serta mengedukasi masyarakat akan pentingnya nasionalisme, yang bermuara pada apresiasi luar biasa terhadap eksistensi bangsa. Seperti ditunjukkan dalam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) 2021, 1-5 Oktober, Jalur Rempah dalam Bingkai Seni Rupa jadi salah satu agenda yang diusung oleh kegiatan Pemprov Sumbar, melalui Dinas yang dinahkodai oleh Gemala Ranti ini.

“Pameran jalur rempah, (tujuannya) untuk kita semua mengingat kembali bahwa di zaman dahulu Sumatera Tengah merupakan wilayah sumber rempah yang sangat kaya. Ada kulit manis, pala, cengkeh, lada, dan lainnya. VOC kemudian datang, rempah kita diambil dan dihargai tak layak. Masyarakat perkebunan berjuang untuk mendapat harga yang layak. Di balik kisah itu, dengan adanya pusat rempat, efeknya sampai sekarang, perkebunan bertahan,” jelas Ketua Pelaksana PKD Sumbar, yang juga Kepala UPTD Taman Budaya, Hendri Fauzan, mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Gemala Ranti, Minggu (3/10/20210) malam.

Pameran jalur rempah ini, disebutkan Fauzan, seiring juga dengan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, Muhibah Jalur Rempah. Melalui pameran karya seni rupa di ajang PKD Sumbar 2021 ini, pengunjung akan diajak untuk melihat berbagai sudut pandang para perupa dalam memaknai sejarah jalur rempah Nusantara, khususnya Sumatera Barat.


Ketua Pelaksana PKD Sumbar, yang juga Kepala UPTD Taman Budaya, Hendri Fauzan. (Foto: YEYEN)

Dalam kesempatan memasuki galeri pameran, hasil karya seni rupa berbasis riset menyambut kehadiran SumbarFokus.com. Penerapan riset dalam karya para perupa terlihat nyata. Karya seni rupa kelompok Pasawangan X Batuang Art Jalur dan Alur ini menunjukkan eksplorasi jalur sejarah rempah yang ada di Sumbar.

Dengan mencampurkan media kanvas dengan media kain untuk membahasakan secara simbolis pesan yang ingin disampaikan, karya seni rupa ini sukses menjadi ‘buku sejarah singkat’ jalur rempah yang tertata indah dan tak jemu untuk dimaknai.

Salah seorang kurator, Yusuf Fadly Aser, mewakili rekan kurator lainnya, Nessya Fitryona, bermurah hati memberi penjelasan dari muatan yang diusung oleh karya seni yang sangat menarik pandangan itu.

“Di sini menceritakan ketika Sumatera dibagi tiga, ada jalur perdagangan Sumatera, dimulai dari tengah. Perjalanan ini dimanifestasikan oleh perupa untuk direspon, diangkat jadi satu karya. Ada bagian-bagian dari kapal, karung-karung, ada rempah seperti kemiri, lada, dan gambir. Ini salah satu pembacaan sejarah rempah, ketika Belanda masuk ke Sumatera,” terang Yusuf Fadly Aser.

Kita Peduli!

Disebutkan Aser, sebagai kurator, pihaknya memandang bahwa jalur rempah sendiri merupakan peluang tersendiri bagi perupa di Sumbar. Untuk pameran jalur rempah sendiri, perupa dituntut untuk menerapkan praktik berkesenian berbasis riset. Selain itu, perupa juga ditantang untuk mampu mengolah medium untuk karya bertema spesifik.

Sebelum melahirkan karya, perupa dalam hal ini menggali terlebih dahulu berbagai informasi yang mendukung konsepnya. Tak hanya mengandalkan sensitivitas, perupa mendapat informasi melalui wawancara, studi literasi, dan pendekatan lainnya yang memungkinkan. Karyanya, nanti, menjadi sesuatu yang menghantarkan pengetahuan bagi penikmat seni rupa, bukan sensasi keindahan semata.

“Kita membaca kembali jejak jalur rempah di Sumbar melalui karya seni rupa. Menguatkan kembali bagaimana seniman kita, perupa kita, membiasakan diri untuk menggunakan pola riset, pencairan data, dalam hal ini terhadap penelusuran jalur rempah. Dan bagaimana pula penguatan lainnya, terkait persoalan rempah sebagai objek atau material yang kemudian dikembangkan oleh kawan seniman jadi sebuah karya. Poin-poin ini merangkum nanti catatan kuratorial jalur rempah,” urai Aser.

Aser mencontohkan, dari riset diketahui bahwa ternyata rempah di masa dahulu merupakan sesuatu yang sangat berharga, yang bahkan bisa menciptakan pertumpahan darah dalam perebutannya. Harga rempah, seperti pala, bahkan dipatok setara emas!

 

Karya-karya yang bercerita

Puluhan karya seni rupa dipajang di galeri Taman Budaya, dalam PKD Sumbar 2021 ini. Karya-karya seni itu berbicara. Ada yang menyampaikan kisah ramainya aktivitas perdagangan rempah di Muaro Padang. Perupa Kamal Guchi, berkisah dalam karyanya, menyajikan visual suasana masa lalu, menerapkan teknik pencahayaaan yang dramatis dan pijakan perspektif yang tinggi serta visualisasi pantulan cahaya dari permukaan objek yang ada di lokasi muara. Berukuran 100 x 70 cm, karya Kamal Guchi yang dibuat di atas kanvas dengan akrilik ini dibanderol Rp15 juta bagi siapa yang berminat untuk mengoleksi.

"Muaro Padang", karya Kamal Guchi. (Foto: YEYEN)

Selain suasana muara, pengunjung galeri juga bisa hanyut dalam sajian abstrak hasil karya Yon Indra. Posisi dan perkembangan jalur rempah dalam konteks sosial budaya dituangkan perupa ini dalam karyanya yang kemudian diberi judul The Circle of Obsession, khas dengan media campuran, atau mixed media. Karya berukuran 160 x 160 x 80 cm ini dibanderol harga Rp80 juta!

"Ini karyanya abstrak. Tapi saya bisa sedikit memahami pesan yang disampaikan perupa. Saya suka karya ini. Ndak bosan memandangnya. Masih misterius, tapi menarik sekali," sebut salah seorang pengunjung, Wawan, mengomentari The Circle of Obsession.

Seorang pengunjung sedang melihat sebuah karya seni dengan konsep abstrak, "The Circle of OBsession". (Foto: YEYEN)

Selanjutnya, ada Tanah Ibu, Tanah Rempah oleh Aprilia, yang disuguhkan berdasarkan literatur serta riset lapangan. Berhasil menyajikan pengetahuan baru sejarah jalur rempah. Tak jauh beda, sense ini dihadirkan pula oleh karya Febrido berjudul Level 1 yang menceritakan mengenai keterkaitan tanaman kaktur dengan tanaman rempah. Juga ada Incaran, karya Indra Gunawan, yang bercerita tentang Kapal Djong dan Galleon. Ada pula Rumah Penjaga Pohon Pala karya Yuliana, bercerita mengenai sejarah dan kisah perjalanan pala sebagai komoditas dagang. Kemudian, kisah cengkeh diangkat oleh Ardi Rahmat dalam Cengkeh Koto Anau dan Fitri Nuraliza dalam Memetik Cengkeh.  

Karya instalasi tak kalah berbicara dalam momen ini. Seperti disajikan oleh Komunitas Gubuak Kopi Solok, ditampilkan penelusuran terhadap refleksi fenomena rempah dan permasalahan petani di daerah Payo. Permainan media neonbox dan refleksi cahaya membuat pemaknaan terhadap karya ini semakin dalam, ditambah pula dengan aroma rempah yang menari di penciuman.

"Circle of Obsession", dibanderol Rp80 juta. (Foto: Ist.)

Puluhan karya ditampilkan, menyajikan pesan-pesan historis yang memuliakan Sumatera Barat sebagai salah satu rangkaian dari jalur rempah di Nusantara. Sangat pentingnya rempah di mata dunia, bahkan mampu memberi pengaruh terhadap kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Di jalur itu lah Sumatera Barat pernah ambil peranan, menjadikan Indonesia sebagai rebutan, wilayah strategis di mata perdagangan dunia. (003)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2021




      sumbar