Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan terkaitnya banyak rumah rusak akibat gempa 5,3 SR di Solok Selatan, saat meninjau lokasi bencana di Sangir Balai Janggo, Minggu (3/3/2019). (Foto: Wahyu)


Bencana

Irwan Prayitno Sebut Rumah di Solsel Banyak yang tak Sesuai Konstruksi Bangunan

SOLOK SELATAN (SumbarFokus)

Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Irwan Prayitno mengatakan, bahwa banyaknya jumlah unit rumah yang rusak akibat gempa di Solok Selatan, disebabkan rumah yang didirika tidak sesuai konstruksi bangunan.

Apalagi kata Irwan, banyak masyarakat setempat yang mendirikan rumah secara individu, tanpa mengindahkan standar konstruksi bangunan. Akibatnya, apabila digoncang gempa berkekuatan 5 skala richter (SR) ke atas, rumah tersebut mudah goyah, retak, roboh, dan hancur karena bangunannya tidak kuat.

Pernyataan itu disampaikan Irwan di hadapan awak media, saat meninjau langsung rumah yang rusak akibat gempa di Nagari Sungai Kunyit, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Solok Selatan Minggu (3/3/2019) kemarin. Pada waktu itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat setempat membangun rumah sesuai konstruksi bangunan yang ada.


"Kalau mendirikan rumah tidak sesuai aturan, atau tidak mengikuti standar konstruksi bangunan, pasti mudah hancur digoncang gempa. Jadi jangan membangun rumah asal jadi saja," kata Irwan waktu itu.

Gubernur Sumbar itu juga mengingatkan, bagi masyarakat yang rumahnya tidak sesuai konstruksi bangunan, agar lebih waspada. Pasalnya kata dia, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa gempa susulan kemungkinan akan terus terjadi hingga beberapa minggu ke depan.

"Datangnya gempa ini tidak bisa ditolak, tapi kita bisa antisipasi. Meskipun goncangannya kecil, tapi kemungkinan berhentinya gempa susulan ini paling cepat seminggu ke depan," terang gubernur yang suka berpantun itu.

Dalam penjelasannya, diakui Irwan bahwa gempa yang berkekuatan 5,3 SR di Solok Selatan itu, sebelumnya tidak terprediksi oleh BMKG Padang Panjang. Pasalnya, gempa tersebut terjadi akibat patahan yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari kawasan setempat, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Dengan jarak yang tidak terlalu jauh itu, kata Irwan apabila seringnya terjadi gempa susulan, akan memperparah kondisi rumah yang rusak sedang dan ringan. Akibatnya, jumlah rumah yang mengalami rusak berat kemungkinan akan bisa bertambah, meskipun gempa susulan tersebut goncangannya tidak terlalu kuat.

"Kalau rumah tidak sesuai konstruksi bangunan, goncangan di bawah 5 SR bisa retak juga. Tapi kita bersyukur, sebab tidak ada korban jiwa, hanya ada yang luka-luka, itu sudah ditangani tim medis," ungkapnya.

Sementara Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Padang Panjang, Mamuri menyebutkan bahwa pihaknya telah memasang sensor seismik portabel di daerah Nagari Sungai Kunyit, Kecamatan Sangir Balai Janggo. Dikatakannya, sensor seismik portabel ini merupakan alat yang bisa memantau aktivitas zona sesar Sumatera.

Berdasarkan hasil sensor seismik portabel tersebut, ia menyatakan terdapat 33 kali getaran, dan lima diantaranya dirasakan masyarakat setempat. Jumlah tersebut kata Mamuri kedalamannya dangkal, atau kurang dari 10 kilometer, dan memiliki magnitudo kurang dari angka tiga.

"Gempa di Solok Selatan ini berada di zona sesar Sumatera, dengan jenis gempa kerak dangkal. Koordinatnya 1,4 LS dan 101,53 BT, atau lokasinya di darat pada jarak 36 kilometer arah timur laut Padang Aro, Solok Selatan dengan kedalaman 10 kilometer," jelas Mamuri. (005)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018