Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit saat membuka PIT ke-IV PABMI di Padang , Jumat (23/11/2018). (Foto: Wahyu)



Indonesia Masih Kekurangan Ahli Bedah Mulut

PADANG (SumbarFokus)

Pengurus Persatuan Ahli Bedah Mulut dan Maksilofasial Indonesia (PABMI) menyebutkan saat ini di Indonesia baru memiliki 417 orang tenaga medis ahli bedah mulut dan maksilofasial. Berdasarkan data itu jumlahnya masih dianggap kurang, sebab minimal yang dibutuhkan 1.000 orang.

“Jujur kita memang kekurangan, sebab masih jauh dari jumlah idealnya,” sebut Ketua Umum PABMI, Dr. drg M. Syafrudin Hak, Sp.BM (K) kepada SumbarFokus pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-IV PABMI di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Jumat (23/11/2018). 

Ia menilai jumlah ideal tenaga ahli bedah mulut ini sangat sulit dipenuhi. Pasalnya, jumlah kampus yang memiliki pendidikan Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial di Indonesia juga masih sedikit, yakni hanya empat perguruan tinggi, yaitu Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI-Jakarta), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad-Bandung), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM-Yogyakarta), dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair-Surabaya).


Keterbatasan ahli bedah mulut ini akan berdampak kepada pelayanan masyarakat yang membutuhkan. Tapi meskipun kurang, di kawasan Asia kita dinilai maju dalam teknologi dan peralatan serta rehabilitasi bedah mulut dan maksilofasial,” ungkap Syafrudin.

Pernyataan yang serupa juga dilontarkan Ketua Pelaksana PIT ke-IV PABMI, Harfindo Nismal bahwa Sumbar juga masih kekurangan tenaga ahli bedah dan aksilofasial ini. Menurut pengakuannya, saat ini Sumbar hanya memiliki empat orang tenaga ahlli yang dimaksud.

Dalam kegiatan yang berlangsung 23-24 November 2018 itu, aa mengatakan Sumbar juga masih kekurangan tenaga ahli bedah dan aksilofasial ini. Menurut pengakuannya, saat ini Sumbar hanya memiliki empat orang tenaga ahlli yang dimaksud.

“Sumbar sampai saat ini baru empat orang ahli bedah mulut, dan semuanya numpuk di Padang. Idealnya setiap kabupaten harus ada, jadi seharusnya kita minimal mempunyai 19 orang untuk 19 kabupaten/kota,” ungkap Harfindo.

Dikatakan Harfindo, spesialisasi bedah mulut dan maksilofasial ini merupakan ahli memberikan pelayanan bedah, seperti bibir sumbing, trauma akibat kecelakaan, tumor, atau tindakan operasi lainnya. Spesialis ini kata dia, di Sumbar masih tergolong baru, dan perlatan medianya juga belum memadai.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menyatakan, keterbatasan jumlah ahli bedah mulut itu diantara penyebabnya karena belum tersedianya peralatan pendukung untuk bedah mulut di kabupaten/kota Sumbar.

Kita Peduli!

Menurutnya kondisi di Sumbar masih lebih baik jika dibandingkan Bengkulu yang baru memiliki dua ahli bedah mulut, atau Sumatera Selatan yang baru terdapat satu ahli bedah mulut.

Kemudian kata dia, di Sumbar juga sudah ada dua fakultas kedokteran gigi, yakni di Universitas Andalas dan Universitas Baiturrahmah, yang menurutnya sudah mencukupi untuk kebutuhan di daerah.

“Idealnya memang setiap kabupaten dan kota harus ada ahli bedah mulut ini, tapi Sumbar masih lebih baik dibanding provinsi tetangga. Kita ke depannya mengharapkan semua Pemda menyiapkan dana kesehatan 15 persen dari APBD masing-masing agar pelayanan dasar itu terlayani,” pungkas Wagub mengakhiri. (005)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2021