Kepala Bidang Warisan Budaya dan Bahasa Minangkabau Dinas Kebudayaan Sumbar Aprimas. (Foto: Yeyen)


Lain-lain

Disbud Sumbar: Potensi Karya Budaya Sumbar Amat Banyak, Penting Didaftarkan

PADANG (SumbarFokus)

Kepala Bidang Warisan Budaya dan Bahasa Minangkabau Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Aprimas, mewakili Kepala Dinas, menyatakan bahwa potensi karya budaya Sumbar amat banyak. Namun, kuantitas dan kualitasnya yang sedemikian besar itu belum terdata secara konkret.

Dicontohkan, untuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Sumbar, dari 300-an item yang terinventarisis oleh Provinsi, yang merupakan kumpulan inventarisasi dari Kabupaten/Kota, baru 33 WBTB yang ditetapkan masuk dalam daftar WBTB Indonesia. Dicontohkan juga, dari 648 cagar budaya yang diinvetarisir Sumbar, baru 111 yang ditetapkan Nasional sebagai cagar budaya baru.

“Ini baru yang diinvetarisis oleh Sumbar dan yang ditetapkan oleh Nasional. Belum lagi potensi lain yang belum terdaftar karena belum dilaporkan oleh Kabupaten/Kota ke Sumbar atau belum terpantau,” kata Aprimas, baru-baru ini.


Diumpakan, jika masing-masing kabupaten/kota di Sumbar punya minimal sepuluh karya budaya, itu sudah 190 keseluruhannya. Namun ditegaskan oleh Aprimas tidak mungkin satu daerah hanya punya sepuluh karya budaya.

“Pasti banyak. Ada kesenian, manuskrip, bahasa, ritus, upacara-upacara, tradisi lisan, permainan tradisional, dan lainnya,” sebutnya.

Dalam Undang-undang Pemajuan Kebudayaan, diketahui, ada sepuluh objek pemajuan kebudayaan, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, permainan rakyat,olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus.

Dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan, seluruhnya ada di warisan budaya Sumbar,” imbuh Aprimas.

 

Penting didaftarkan

Kita Peduli!

Amat besarnya potensi karya budaya Sumbar, dikatakan, sangat sayang jika tidak didaftarkan. Karena mendaftarkannya merupakan satu upaya pemeliharaan, sesuai dengan tahap perlindungan dalam pemajuan kebudayaan.

“Jika tidak diusulkan, bisa jadi daerah atau negara yang mengusulkan sehingga diakui. Jika keduluan, maka kita tidak lagi bisa mengatakan bahwa satu karya budaya milik kita,” ujarnya.

 

Pengusulan untuk bisa didaftarkan secara resmi ini, selain merupakan upaya pemeliharaan karya budaya, juga ada urgensi pemanfaatan di dalamnya. Jika satu karya budaya sudah diakui resmi, pemanfaatannya akan semakin luas, yang berdampak ke berbagai sektor kehidupan, terutama perekonomian.

Untuk itu, disebutkan, perlu ktianya Kabupaten/Kota, melalui Dinas terkait, mengusulkan ke Provinsi untuk mendaftarkan karya budayanya dalam inventarisasi Provinsi, yang kemudian nanti Provinsi bisa meneruskan ke Pusat agar mendapat pengakuan secara nasional.

“Terkait kewenangan, Kabupaten/Kota tentu lebih paham dengan data karya budayanya. Harapan kita, Kabupaten/Kota mengajukan ke Provinsi,” sebut Aprimas. (003/Hms-Sumbar)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      budaya-sumbar