Ahli kedokteran dari Universitas Andalas Padang, yang juga Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Dr. Andani Eka Putra. (Foto: Ist.)


Lain-lain

Bukan Hanya untuk Membentuk Antibodi, Ini Kata Dr Andani Soal Vaksin

PADANG (SumbarFokus)

Simpang siur informasi soal vaksin COVID-19 beredar di masyarakat. Ini diakui oleh Ahli kedokteran dari Universitas Andalas Padang, yang juga Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Dr. Andani Eka Putra, Minggu (17/1/2021).

Dijelaskan oleh Dr. Andani, vaksin dimasukkan ke tubuh manusian bukan untuk membentuk antibodi karena antibodi hanya bertahan empat sampai enam bulan.

“Kalau hanya (membentuk) antibodi, artinya vaksin kan hanya tahan sampai enam bulan, ini salah, karena konsep vaksin adalah membentuk sel memori," ucapnya.


Begitu ada virus baru masuk ke dalam tubuh maka sel memori dalam sistem pertahanan tubuh akan mengingat mekanisme pertahanan yang dijalankan.

"Pada fase awal, ketika vaksin masuk ke tubuh manusia, antibodi akan terbentuk dan bertahan selama empat sampai enam bulan namun sel memori sebagai pengingat akan tetap ada, sel-sel pengingat spesifik dan jumlahnya banyak,” terang Dokter.

Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, vaksin COVID-19 akan membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus penyebab COVID-19 tanpa mengakibatkan kesakitan. Tipe vaksin yang berbeda bekerja dengan cara yang berbeda dalam memberikan perlindungan. Namun, vaksin-vaksin tersebut membuat tubuh memiliki suplai sel memori berupa sel limfosit T dan sel limfosit B yang akan mengingat cara untuk melawan virus tersebut.

Ditambahkan, butuh beberapa pekan bagi tubuh untuk menghasilkan sel limfosit T dan sel limfosit B, karenanya ada kemungkinan orang bisa terinfeksi virus beberapa saat sebelum atau sesudah vaksinasi dan kemudian sakit karena vaksin tidak punya cukup waktu untuk memberikan perlindungan.

Dijelaskan juga, pengembangan vaksin mencakup analisis terhadap virus, pembuatan vaksin, pengujian pada hewan, dan pengujian pada manusia. Pengujian vaksin mencakup pengujian keamanan dan kemanjurannya dalam melawan penyakit.

Vaksin aman!

Selain itu, Dr Andani menyatakan bahwa ia menilai vaksin COVID-19 yang digunakan pemerintah dalam vaksinasi aman karena telah melewati fase pengujian keamanan.

Kita Peduli!

"Kalau ditanya apakah vaksin aman, saya akan katakan Insya Allah aman karena sudah melewati fase I dan II. Sejak uji fase I dan II, keamanan vaksin sudah bisa terlihat. Kalau keberhasilannya 30 persen maka 30 persen terlindung, jika 60 persen maka 60 persen terlindung, dan baru akan bisa dilihat setahun ke depan (hasilnya)," terangnya.

Dia juga mengimbau warga Muslim agar tidak khawatir mengenai kehalalan vaksin COVID-19 karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa mengenai vaksin buatan Sinovac, perusahaan farmasi China, yang digunakan pemerintah dalam vaksinasi.

Mengenai kemungkinan adanya efek samping dari vaksinasi COVID-19, Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand itu mengatakan bahwa semua vaksinasi memiliki efek samping.

“Jangan katakan vaksin tidak ada efek samping. Yang paling ringan adalah rasa sakit saat disuntik, lalu ada efek gatal, bengkak, merah, mual, dan sakit kepala. Bahkan untuk efek samping berat bisa pingsan. Namun yang diantisipasi adalah penanganannya," kata dia.

Dia mengingatkan bahwa vaksinasi tidak serta merta bisa mengatasi penularan COVID-19. Vaksinasi hanya bagian dari upaya untuk mengendalikan penularan penyakit tersebut.

"Jangan mengantungkan semua pada vaksin karena vaksin hanya salah satu dari lima pilar penanganan COVID-19 yaitu edukasi, tracing (pelacakan) dan testing, pelayanan di rumah sakit, dan penegakan hukum," tegasnya. (002)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020