Nurhasyiah, alumni Universitas Terbuka dengan IPK lulusan 3,75. (Foto: Yeyen)


Feature

Bersama UT, Nurhasyiah Wujudkan Cita-cita

Oleh IRAWAN WINATA

Sejak kecil sudah berprestasi namun tidak didukung oleh kecukup perekonomian keluarga, itulah yang dialami oleh Nurhasyiah (23). Semangat perempuan, puteri dari pasangan Sa’amar dan Murniati, selalu bergelora untuk meraih prestasi di dunia pendidikan, sejak masa sekolah dasar hingga di jenjang sekolah lanjutan menengah atas.

Namun, sempat terpikir, apa daya, mampukah dirinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi selepas SMA, kekhawatiran Nurhasyiah saat itu membelenggu keinginan mewujudkan cita-citanya. Dan sekarang, baru saja menamatkan perkuliahan di Unit Program Belajar Jarak Jarauh (UPBJJ) Universitas Terbuka Padang, Nurhasyiah memaparkan pada SumbarFokus, kenangan masa lalu perjuangan dirinya untuk bisa meraih cita-cita hingga seperti saat sekarang ini.

Dengan wajah ceria, Nurhasyiah menyatakan rasa bahagia, baru saja yudisium di September kemarin.  Mengambil jurusan S1 Manajemen di UPBJJ UT Padang, Nurhasyiah berhasil meraih IPK 3,75 dengan masa kuliah empat tahun.


Berbinar matanya saat ditanya mengenai kepuasan mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik di UBPJJ UT Padang, meskipun dirinya harus menghabiskan waktu di siang hari itu bekerja.

“Kuliah di UT ini sangat memudahkan. Waktu fleksibel. Saya bisa fokus kuliah sambil tetap fokus bekerja, “ ungkap dara kelahiran 23 Mei 1996 ini.

Namun tiba-tiba, Nurhasyiah tak kuasa membendung buliran air mata, begitu ditanya mengenai perasaan orangtua dengan berhasil dirinya menyelesaikan kuliah dengan nilai yang sangat memuaskan tersebut.

“Saya berasal dari keluarga tidak mampu perekonomian. Untung di UT saya dapat beasiswa CSR. Itu mulai tahun 2015. Sejak SD saya meraih juara 1. Hingga tamat SMP, ibu tidak punya biaya untuk Saya bisa lanjutkan sekolah ke bangku SMA,” dara berjilbab tersebut mulai meneteskan air mata.

Dirinya yang merupakan anak sulung, dengan adik empat orang, nyaris merasa putus asa. Namun kemudian sang tante menyatakan diri ingin membantu dirinya, hingga si sulung dari enam bersaudara ini bisa melanjutkan sekolah ke bangku menengah atas di Kota Padang.

Dirinya kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan, dengan harapan setamat itu bisa bekerja dan mandiri.

“Niat saya sangat kuat untuk lanjutkan pendidikan. Alhamdulillah, di SMK saya tetap selalu juara. Meski gamang berpisah dengan mama, tapi tekad Saya untuk sekolah kuat,” masih dengan mata yang penuh buliran air mata, dirinya bercerita.

Sempat ia mencoba mendapatkan beasiswa bidikmisi saat itu, demi bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah setamat SMA. Apa daya, Allah belum menakdirkan dia sukses melalui beasiswa tersebut, bidikmisi tidak berhasil didapatkan.

Setamat SMK, tak mau membebankan sang tante lebih banyak, dirinya kemudian mencari pekerjaan. Apapun kerja asal halal, dilakaninya. Saat menjadi seorang resepsionis di pusat kebugaran lah dirinya mengenal seseorang, Yogi, yang memberitahukan informasi mengenai solusi bagi harapan besarnya melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan.

“Saat itu Bang Yogi sebutkan, kenapa harus berharap pada kampus konvensional. Sambil kerja seperti ini, kamu tetap bisa kuliah kok. Ada Universitas Terbuka. Kampus negeri juga. Jalur beasiswa juga ada. Mau online juga bisa. Waktu kuliah sangat fleksibel. Lulusannya berkualitas. Begitu kata Bang Yogi pada Saya waktu itu,” tutur Nurhasyiah.

Dirinya kembali termotivasi begitu mengetahui informasi mengenai UT. Jelas ini merupakan pemuas dahaga di tengah padang pasir kering bagi dirinya saat itu.
“Saya dulu sempat dihina tetangga. Anak orang kayak saja ada yang gak mau kuliah. Ini orang miskin, ga punya ayah lagi, sok mau kuliah. Begitulah Saya dihina. Tapi itu justeru membuat semangat Saya makin kuat,” kenangnya dengan air mata yang sering ia seka saat wawancara dengan SumbarFokus.

Bagi perempuan yang suka sekali membaca ini, pendidikan tinggi bukan untuk gaya-gayaan. Pendidikan tinggi di matanya merupakan pendukung kualitas seseorang.

“Kita harus punya kemampuan lebih dari orang lain. Kalau wawasan kita luas, kita bisa melakukan banyak hal. Orang yang berpendidikan, pasti beda kualitasnya,” sebut Nurhasyiah.

Setelah mendapat informasi mengenai UT, dirinya segera mendatangi sekretariat UT di By Pass. Meski sebenarnya dia sempat mendengar kabar tentang UT, bahwa di UT itu masuk gampang keluar susah, atau susahnya menemui dosen di UT, namun dirinya bagai mendapat pelepas dahaga begitu mendengar info dari Yogi.

Begitu mendapat penjelasan dari pihak UT, apa yang selama ini dia dengar negatif ternyata tidak terbukti. Bahkan, berkuliah di UT, sangat mudah, dan dosen-dosen justeru bersifat menyokong agar mahasiswa bisa tepat waktu menyelesaikan kuliah.

Perempuan yang pernah bekerja di rumah makan dan tailor ini kemudian diberi kesempatan oleh Allah untuk berkuliah di UT. Nurhasyiah mendapatkan beasiswa dengan target masa kuliah empat tahun.

“Dulu saya sering menahan keinginan ingin punya sesuatu untuk belajar. Untuk beli buku, Saya harus nabung dulu. Ingin sepatu baru, saya tunggu terkumpul uang dulu, dan sementara pakai sepatu yang bolong dulu. Alhamdulillah, semua perjuangan Saya membuahkan hasil. Saya mampu menyelesaikan perkuliahan di UT tepat waktu. Sekarang Saya juga telah bekerja di UT sebagai staf di TU. Ilmu saya juga terpakai. Saya bisa membahagiakan orangtua dan adik-adik di kampung. Dan Saya masih ingin melanjutkan kuliah ke S2 jika Allah mengizinkan. Saya sangat berterimakasih kepada UT, Saya bisa dapat beasiswa, dibimbing perkuliahan dengan baik oleh para dosen, kemudian dipercaya menjadi staf di sini (red-kantor UPBJJ UT Padang),” Nushasyiah kemudian menutup kisahnya dengan wajah berbinar. (*)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018