Emi (kanan) minta maaf pada seluruh warga Kota Padang dan Walikota Padang Mahyeldi, dan berharap bisa berjumpa dengan Walikota untuk minta maaf secara langsung. (Foto: Ist.)


Peristiwa

Berharap Bisa Bertemu Secepatnya dengan Walikota, Pedagang yang Mencaci-maki Minta Maaf

PADANG (SumbarFokus)

Didatangi mantan anggota DPRD Kota Padang, Maidestal Hari Mahesa, Jumat (7/8/2020), pedagang yang mencaci-maki Walikota Padang Mahyeldi saat ditegur karena berjualan di atas trotoar di area Pantai Padang menyatakan permohonan maaf. Dia mengaku tidak tahu saat itu yang dihadapinya adalah Walikota, dan dia juga mengakui kondisinya yang sedang tidak bisa menguasai diri karena sedang sakit saat itu.

“Ambo pedagang banamo Emi. Yang tajadi kapatang jo Pak Mahyeldi, Pak Walikota, Ambo dak tahu Ambo makasuik Pak Walikota yang bertentangan tu. Ambo dalam keadaan paniang dan sakik. Ambo dak talok tagak, dek paniang. Mako ambo dak tau bahaso apak Pak Walikota. Ambo minta maaf jo Apak, kalau ada kesalahan Ambo, dan indak lamak, Ambo minta maaf jo Apak (red- Saya pedagang bernama Emi. Yang terjadi kemarin dengan Pak Mahyeldi, Pak Walikota, Saya tidak maksud Pak Walikota yang bertentangan itu. Saya dalam keadaan pusing dan sakit. Saya tidak sanggup berdiri karena pusing. Saya tidak itu bahwa itu adalah Pak Walikota. Saya minta maaf pada Bapak, jika ada kesalahan Saya, dan yang tidak mengenakkan, Saya minta maaf pada Bapak),” tutur Emi.

Emi mengaku merasa malu dengan telah meluasnya cerita kejadian ini.  


“Tidak mungkin Saya berbuat seperti itu kepada Pak Walikota. Sayapun malu dengan Bapak. ... Jadi kalau Saya yang salah, Saya dalam keadaan pusing, sakit, tidak tahu apa yang Saya pikirkan. ... Saya minta maaf kepada Pak Mahyeldi, seluruh warga Kota Padang,” tambah Emi.

Sementara, Maidestal Hari Mahesa, yang berinisiatif untuk datang ke kediaman Emi beserta keluarga, menjelaskan pada SumbarFokus bahwa kehadirannya menjumpai yang bersangkutan karena dirinya merasa memiliki tanggungjawab moral.

“Mereka kenal Saya, dan mereka minta dibantu dan difasilitasi,” sebut pria yang akrab dipanggil Esa ini.

Diterangkan, pihaknya datang ke kediaman Emi pada Jumat malam, di Kelurahan Berok Nipah. Esa sendiri menjumpai bahwa keluarga tersebut merasa sangat menyesal dan sangat berharap agar Walikota Padang memaafkan apa yang telah diperbuat.

”Beliau sangat berharap, Pak Mahyeldi beserta keluarga bisa menerima Beliau untuk bertemu langsung, untuk menyampaikan permohonan maafnya agar persoalan ini tuntas. Mereka merasa menyesal dan juga merasa tidak nyaman karena ternyata jadi heboh begini. Mereka berharap bisa bertemu segera dengan Pak Walikota,” ujar Esa.

Walikota telah memaafkan dan tidak akan memperkarakan

Kita Peduli!

Sebelumnya, saat diwawancara wartawan di sela kegiatan Paripurna HUT Kota Padang pada Jumat (7/8/2020) siangnya, Walikota mengaku memaafkan warganya yang telah mencaci-maki dirinya tersebut.

"Ya, awalnya Saya bertemu dengan PKL tersebut kemudian diberikan teguran dan mereka tidak menerima," sebut Wako Mahyeldi, Jumat (7/8/2020), usai paripurna HUT Kota Padang ke-351 di gedung DPRD Kota Padang.

Wako juga menegaskan dirinya tidak akan memroses warga yang bersangkutan ke jalur hukum terkait kejadian itu.

"Ndak-ndak. Ndak apa-apa, itu adalah konsekuensi menjadi Walikota, begitu. Semua respon masyarakat, Kita nikmati dan kemudian kita bersyukur atas apa yang dilakukan. Karena memang tidak semua apa yang dilakukan itu, direspon secara baik oleh setiap orang. Tapi itulah warga Kita, dan mereka adalah warga masyarakat Kota Padang yang harus tetap Kita perhatikan," tegasnya.

Mahyeldi juga menekankan, apapun respon masyarakat terhadap dirinya, terkait perbaikan-perbaikan yang dilakukan Pemko Padang, ia dan jajaran akan tetap memberikan yang bagi warga.

Sebelumnya, diketahui telah beredar video di media sosial berisi tayangan pedagang di Pantai Padang yang mengucapkan kata-kata kasar dan tidak pantas, dalam bahasa Minang, kepada Walikota Padang Mahyeldi.

Dalam video berdurasi sekitar 5 menit 11 detik itu, PKL yang berjualan di atas trotoar pelataran Pantai Padang tersebut tidak rela ditegur oleh wali Kota Padang. Video tersebut juga beredar di beberapa group WhatsApp pada Kamis (6/8/2020).

Dalam video singkat itu Walikota Padang terlihat tengah berolahraga sepeda ditemani ajudannya, mengenakan pakaian olah raga berwarna hitam, memakai helm sepeda, dan memakai masker.

Wali kota tampak mendatangi sekelompok PKL. Kemudian Mahyeldi menyapa dan menegur agar mereka tidak menjajakan dagangannya di atas trotoar karena melanggar aturan. Menanggapi Walikota, pedagang justeru jadi naik pitam

Dikonfirmasi kepada pedagang di Pantai Padang oleh tim SumbarFokus, seorang pedagang yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan bahwa dirinya mengetahui kejadian tersebut. Walikota diketahui menegur pedagang untuk menggeser barang dagangan yang memakan ruas jalan di sekitar area Pantai Padang.

"Pak Walikota hanya menyuruh pedagang tersebut menggeser barang dagangannya, tapi pedagang itu langsung tersulut emosi akibat ditegur oleh Pak Walikota,” ujarnya.

Dikatakan, teguran juga dilakukan oleh Walikota ke pedagang lain di Pantai Padang saat itu, yaitu untuk menggeser dagangan yang berada di atas trotoar.

"Kami juga mendapat teguran dari Pak Walikota. Tetapi, Kami langsung membereskan dagangan yang melanggar dan tidak langsung emosi kepada Pak Walikota, karena itu merupakan kesalahan Kami," jelasnya.

Senada, seorang pedagang lainnya, yang juga enggan disebutkan nama dan usianya, menyatakan bahwa dirinya menyesalkan sikap pedagang yang mengasari Walikota tersebut.

"Bapak Walikota adalah orang nomor satu di Kota Padang ini. Beliau seorang yang baik dan sopan ketika menegur para pedagang yang berjualan di Pantai Padang. Kami, pedagang yang berjualan di sini, tidak pernah mendengarkan kata-kata kasar dari Bapak Walikota, sampai kepancing emosi seperti pedagang yang bermasalah kemarin. Kejadian serupa sudah sering terjadi di tempat tersebut, tidak hanya dengan Bapak Walikota, dengan para pengunjung juga pernah terjadi masalah,” ungkap pedagang itu.

Sementara, pedagang lain menyebutkan bahwa mereka tidak ingin kejadian ini berimbas pada keberadaan mereka dalam berdagang di Pantai Padang.

"Kami berharap akibat dari kejadian ini tidak berimbas kepada pedagang lain. Karena, kami takut apabila nanti tidak diberikan izin untuk berjualan di area ini lagi. Kami takut kejadiaan seorang pedagang yang melawan Bapak Walikota kemarin, dengan kata-kata yang tidak sewajarnya, akan mempengaruhi pedagang lainnya, seperti terjaring razia dan penutupan area penjualan PKL di Pantai Padang, sedangkan Kami di sini berjualan dengan mematuhi aturan yang ada, tidak seperti pedagang yang melawan teguran dari Bapak Walikota,” ungkapnya. (003/002/magang)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020




      padangsumbar