Ridwan menunjukkan kepiting bakau hasil budidayanya. (Foto: Hendrianto L Raja)


Feature

Berawal dari Hobi, Budidaya Kepiting Bakau Ridwan Jadi Sumber Rezeki

Oleh HENDRIANTO L RAJA

 

TUAPEIJAT (SumbarFokus)

Awalnya hobi, ditekuni serius kemudian, akhirnya kesukaan terhadap kegiatan budidaya kepiting bakau jadi salah satu sumber penghasilan bagi pemuda asal Sipora Utara, Ridwan (30). Kesukaannya terhadap budidaya kepiting, digeluti Ridwan dengan spesifikasi molting kepiting bakau (red-kepiting yang dilunakkan). Bertempat di Pulau Awera, Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), SumbarFokus berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana operasional Ridwan dalam membudidayakan kepiting bakau.


Alumni Akademi Komunitas Negeri Mentawai juruan Budidaya Perikanan ini bercerita, tidak ada pelajaran khusus yang diikutinya terkait usaha budidaya kepiting bakau yang saat ini dia geluti. Berbekal ilmu semasa kuliah dan pembelajaran secara otodidak misalnya melalui tayangan Youtube, Ridwan mengembangkan ketertarikannya terhadap kepiting bakal.

Belum sampai satu tahun ini, ia mencoba memasarkan hasil budidayanya melalui media sosial. Pasar media sosial ternyata cukup melirik. Terbukti dari bergulirnya pesanan demi pesanan kepiting bakau budidayanya.

“Saat ini, yang Saya kreasikan adalah molting kepiting bakau. Saya menggunakan tang, alat dari bengkel, untuk memotong cangkang kepiting dalam proses pelunakan. Banyak yang suka kepiting lunak. Enak rasanya. Mereka (red-pembeli) appreciate sekali terhadap hasil molting yang buatan saya,” tutur Ridwan pada SumbarFokus.

Tak hanya pasar media sosial, ternyata komoditas budidayanya juga dilirik oleh wisatawan yang berkunjung ke homestay yang dikelola Ridwan. Ya. Pemuda lulusan pertama Akademi Komunitas Mentawai ini juga mengelola sebuah homestay, Telescope Surf namanya. Kepiting bakau budidayanya bahkan sering dijadikan buah tangan oleh para turis yang singgah di homestaynya.

Cukup tinggi nilai ekonomi, kepiting bakau Ridwan dihargai mulai dari Rp65 ribu sampai Rp150 ribu per ekor, tergantung ukuran (skala small-medium-large).

“Kepiting bakau ini punya rasa gurih sehingga penikmat merasakan sensasi rasanya. Kepiting soka paling disukai,” kata Ridwan.

Kita Peduli!

Pesanan makin banyak datang. Ini membuat Ridwan makin semangat dalam mengembangkan bisnis budidaya kepiting bakaunya.

Tanpa mengurangi rasa kemandirian dan semangat berdikari, Ridwan punya harapan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, untuk juga memberi perhatian kepada pengusaha kecil seperti dirinya. Dengan budidaya kepiting bakau, Ridwan ingin menunjukkan pada masyarakat, banyak upaya yang bisa dilakukan masyarakat bumi sikerei untuk mengembangkan diri dan meningkatkan perekonomian. Optimisme senantiasa dipegang Ridwan. Dirinya yakin, potensi yang ada di Kepulauan Mentawai sangat besar. Tinggal bagaimana sekarang kemauan dan kesungguhan masyarakat Mentawai untuk menggalinya. (*)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018