Bendera merah putih raksasa berukuran 45x17 meter yang membentang di sungai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jembatan Ratapan Ibu Kota Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar). (ist)



Bendera Raksasa di Jembatan Ratapan Ibu, untuk Mengenang Sejarah

PAYAKUMBUH (SumbarFokus)

Pengibaran bendera merah putih raksasa berukuran 45x17 meter yang membentang di sungai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jembatan Ratapan Ibu Kota Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar), Jumat (17/8/2018), dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-73, menyedot perhatian masyarakat yang melintasi jembatan itu.

Tak hanya melakukan pengibaran bendera merah putih oleh organisasi Vertical Recue Indonesia, saat itu juga ada simulasi penyelamatan orang hanyut di sekitar sungai Jembatan Ratapan Ibu oleh Basarnas Payakumbuh.

Walikota Payakumbuh, Riza Falepi di Payakumbuh, Sabtu (18/8/2018) mengatakan, dengan adanya pengibaran bendera raksasa ini diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat akan cinta tanah air sekaligus mempertebal nasionalisme.


Ia mengatakan, jembatan Ratapan Ibu yang dibangun tahun 1818 itu memang punya sejarah panjang perjuangan masyarakat di daerah tersebut.

Karena itulah kata dia, pengibaran bendera merah putih raksasa di jembatan yang memiliki panjang 40 meter dengan arsitektur kuno, berupa susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur dan semen tanpa menggunakan tulang besi itu menjadi pilihan.

Dengan mengibarkan bendera raksasa di jembatan yang melintasi Sungai Batang Agam, menghubungkan Pasar Payakumbuh dan nagari Aie Tabik itu, Riza Falepi berharap masyarakat bisa berwisata sekaligus mengenali sejarah bangsa.

“Jembatan Ratapan Ibu ini dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan menggunakan para pribumi sebagai pekerja paksa,” kata dia.

Ia mengatakan, Jembatan Ratapan Ibu, tidak hanya menjadi bukti adanya mobilisasi tenaga kerja pribumi yang serba gratis di zaman cultuurstelsel. Tapi juga menjadi penanda, kawasan sekitar Gunung Sago yang subur itu, pernah menghasilkan kopi dan tembakau yang diangkut lewat jembatan tersebut.

Jembatan Ratapan Ibu juga disebut pernah menjadi tempat eksekusi mati bagi pribumi dan “mata-mata” China yang melawan Jepang, setelah Belanda hengkang dari negeri ini. Paling tidak, pahlawan nasional China bernama Yu Dafu, dipercaya warga Tionghoa Payakumbuh, dibunuh dari atas jembatan itu.

Dikatakan, pada 18 Juli 1998 atau semasa Payakumbuh dipimpin Fahmi Rasyad, Jembatan Ratapan Ibu direnovasi sebagai monumen bersejarah.

Riza Falepi berharap masyarakat meniru semangat para pejuang dahulu untuk menghadapi tantangan yang ada saat ini.

"Kita sudah merdeka selama 73 tahun dan harus dijaga dengan semangat yang terus membara," ujarnya. (002)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      payakumbuhsumbar