Ini kondisi mobil tahanan dinas Kejari Agam yang ringsek usai kecelakaan. (Foto: Ist.)


Peristiwa

Begini Kronologi Kecelakaan Mobil Tahanan Dinas Kejari Agam

LUBUK BASUNG (SumbarFokus)

Mobil tahanan dinas Kejaksaan Negeri (Kejari) Agam yang dipinjam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), untuk memindahkan empat Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) ke Lapas Khusus Narkoba (LKN) Sawahlunto, mengalami bertabrakan dengan satu truk di jalan lintas Solok-Padang, di Tonggak Tujuh Danau Singkarak, Nagari Kacang Kecamatan XI Koto Singkarak, Kabupaten Solok Sumatera Barat, Sabtu (13/6/2020) kemarin.

Senin (15/6/2020), Kepala Lapas Klas II B Lubuk Basung Suroto memaparkan kronologi peristiwa kecelakaan yang menyebabkan mobil tahanan dan truk, keduanya, ringsek di bagian depan. Dalam kecelakaan tersebut, disebutkan, tidak ada korban jiwa, namun sebagian korban mengalami luka ringan dan patah tulang.

Diawali Sabtu (13/6/2020) pagi sekitar pukul 06.00 WIB, Kepala Lapas  memerintahkan Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Klas IIB Lubuk Basung dan lima orang petugas lainnya untuk melakukan pengawalan dalam pemindahan empat orang narapidana ke LKN Sawahlunto.


“Keempat narapidana tersebut bermasalah, disinyalir masih mengkomsumsi dan mengedarkan narkoba di dalam Lapas. Karena itu, kita sengaja memindahkan mereka ke LPN Sawalunto. Pasalnya, LPN Sawalunto satu-satunya Lapas di Sumbar yang ada program rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial,” ujar Suroto.

Disebutkan, pemindahan keempat napi tersebut telah dikoordinasikan dan mendapat izin dari Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham Sumbar. Permohonan penempatan napi tersebut juga telah disetujui Kepala LPN Sawahlunto.

Terkait prosedur pemindahan, Suroto menyebutkan, pihaknya telah mengikuti SOP yang ditentukan dan satu petugas lapas mengawal satu warga binaan, sementara satu lagi petugas jadi sopir.

“Pemindahan warga binaan tersebut memang sengaja kita lakukan pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Hal ini, selain mengantisipasi keributan dan gangguan keamanan saat penjemputan WBP di dalam Lapas, juga mengantisipasi kemacetan di jalan,” ungkap Suroto.

Diuraikan, warga binaan yang di pindahkan tersebut antara lain RS (28) hukuman 7 tahun 6 bulan, Robet R (33) hukuman 6 tahun, H alias ET (39) hukuman 14 tahun, dan DC (28) hukuman 5 tahun 6 bulan.

Sementara, keempat warga binaan tersebut dikawal oleh lima Petugas Lapas Klas IIB Lubuk Basung, antara lain Kasubsi registrasi Fahrizal, staf umum Rayonda Qulbi, Kasubsi keamaman Bulyazir, P2U Riswan Agusbandi,  dan Anggota Regu, Bima Okta Prabowo.

Kita Peduli!

Suroto sendiri mengakui, informasi kecelakaan tersebut dan kondisi warga binaan dan para petugas diperolehnya dari petugas yang ikut mengawal, Farizal.

“Selanjutnya kami menghubungi Kalapas Solok untuk meminta bantuan baik medis maupun pengamanan narapidana. Kemudian menghubungi pihak Polres Solok Kota. Selanjutnya Polsek X Koto Singkarak mengevakuasi para korban ke Puskesmas X Koto Singkarak dan selanjutnya di rujuk ke RSUD M. Natsir Solok,” terangnya.

Dituturkan Suroto lagi, saat ini, tiga dari empat warga binaan dirawat di RSUD M. Natsir Solok, yaitu RS (patah kaki kanan), H alias ET (luka di pelipis dekat mata dan sudah diambil tindakan operasi kecil, serta RR (tidak mengalami luka apapun, namun masih trauma dan tetap masih dalam perawatan).

“Ketiga warga binaan tersebut menjalani perawatan dalam pengawasan dan pengawalan petugas kami dan dengan bantuan petugas dari Lapas Solok,” ungkap Suroto.

Sementara, warga binaan berinisial DS sudah dititip sementara di lapas Solok, karena hanya mengalami luka lecet dan sudah diobati.

Disebutkan, petugas Lapas, Bima Okta Prabowo dalam kecelakaan tersebut mengalami keretakan pada tulang rahang dan harus segera menjalani operasi.

“Empat dari lima petugas hanya mengalami cedera ringan dan bisa berobat jalan,” sebut Suroto.

Diungkapkan, biaya pengobatan seluruhnya ditanggung pihak Jasa Rahaja.

Kemudian, terkait dengan kabar simpang-siur yang menyatakan mobil pembawa warga binaan melaju dengan kecepatan tinggim ditegaskan tidak benar. Pihaknya mengatakan insiden tersebut murni musibah kecelakaan.

“Kecelakaan ini bukan kehendak Kita, namanya juga malang, malang itu bisa datang kapan saja. Kondisi demikian tidak kita harapkan. Kecepatan mobil tahanan berkisar 50-60 km/jam, namun karena berada di tikungan dan kondisi jalan baru siap dibasahi hujan gerimis, roda mengalami selip dan tidak terkendali dimana sirene dalam kondisi hidup,” ujar Suroto.

Ditegaskan juga, terkiat informasi yang menyebutkan bahwa sopir yang membawa mobil tahanan tersebut adalah warga binaan, Suroto menyatakan itu tidak benar (007)

 

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      agam