Dr. dr. Andani Eka Putra. (Foto: Ist.)


Lain-lain

Banyak yang Gagal Paham Soal COVID-19! Termasuk Aparatur Pemerintah dan Nakes

PADANG (SumbarFokus)

Ternyata banyak yang gagal paham soal COVID-19. Tak hanya masyarakat umum, termasuk di dalamnya aparatur pemerintah hingga tenaga kesehatan. Ini diungkapkan oleh ahli kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang,  yang juga Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Dr. dr. Andani Eka Putra. Kegagalanpaham ini, disebutkan, membuat terjadi berbagai salah kaprah dalam memahami COVID-19.

"Terus terang saya katakan hampir semua lini mulai dari masyarakat, aparatur pemerintah hingga tenaga kesehatan gagal paham memahami COVID-19 secara utuh mengakibatkan munculnya masalah baru dalam penanganan," ungakpnya, Rabu (1/7/2020).

Andani menguraikan, salah satu bentuk salah kaprah dalam penanganan adalah memakai Alat Pelindung Diri berlapis-lapis sampai membuka pun susah.


"Tidak hanya susah membuka, sampai ada kasus tenaga medis yang sudah bernafas dan pusing karena pakai APD yang terlalu ketat," katanya.

Menurutnya, ini terjadi karena adanya kecemasan yang terlalu berlebihan padahal angka kematian akibat COVID-19 terbilang kecil hanya empat persen. Bisa dibandingkan, di Amerika Serikat angka kematian per hari mencapai 3.000 per hari dan di Eropa bisa mencapai 2.000 per hari.

Tingginya angka kematian di Amerika dan Eropa karena penyebaran virus sudah masuk pada fase erupsi atau eksponensial, yang ditandai dengan 30 sampai 40 persen populasi terinfeksi di waktu bersamaan.

Sementara di Sumbar penyebaran virus berada pada fase patogenesis yaitu kejadian infeksi di bawah 40 persen, kasus kematian berat sedikit, surveilans dan diagnostik masif, serta pertempuran terjadi di lapangan.

Andani menegaskan, jangan sampai di Sumbar penyebaran virus ini masuk pada fase eksponensial. Hal tersebut bisa dicegah  dengan melakukan berbagia upaya seperti melalui edukasi kepada masyarakat kolaborasi Dinas Kesehatan dengan Laboratorium serta melakukan pool tes yaitu tes usap massal.

Kemudian ia menilai untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap COVID-19 amat sulit, seperti kebiasaan memakai masker di tempat umum serta melakukan pembatasan fisik. Bahkan diakui, dirinya pernah berkunjung ke daerah wisata di masa normal baru dengan memakai masker malah pengunjung lain heran melihat.

Kita Peduli!

Namun, Andani juga mengkritik penggunaan cairan disinfektan yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Dicontohkan, disinfektan disebar di jalanan, bahkan ada bilik disinfektan yang cairannya ditembakkan ke tubuh manusia, yang bisa berakibat kepada iritasi dan kanker kulit.

"Bilik disinfektan itu tidak efektif karena penggunaannya untuk benda mati, bukan kulit manusia," kata dia.

Untuk memutus mata rantai ia menilai perlu sosialisasi massif di tengah masyarakat agar patuh pada protokol seperti masker agar bisa bersahabat dengan COVID-19. (002)
 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018