Peringatan 54 Tahun Tritura juga diisi kegiatan ziarah ke makam salah seorang pejuang masa Tritura. (Foto: Ist.)


Lain-lain

"Angkatan 66" Ajukan Tujuh Tuntutan dalam Peringatan Tritura, Masalah Uighur Salah Satu Penekanan

BUKITTINGGI (SumbarFokus)

Tujuh tuntutan disampaikan oleh Eksponen Perjuangan Angkatan 66, dalam kegiatan Memperingati 54 Tahun Lahirnya Tritura, Kamis (9/1/2020). Peringatan ini dilaksanakan di depan Tugu Tritura, Bypass Gulai Bancah, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), tepatnya di depan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti.

Ketua Panitia Syarifuddin Djas, Menjelaskan, kehadiran Angkatan 66, yang merupakan para aktivis pejuang di era Tritura tersebut, mengandung nilai sejarah tinggi. Acara ini diangkatkan untuk melanjutkan perjuangan pejuang Tritura, yang dulu dipelopori oleh mahasiswa tersebut.

Disampaikan oleh Maspar Rasyid, mewakili para Eksponen Perjuangan Angkatan 66, Angkatan 66 menegaskan untuk menolak ideologi komunisme, fasisme, dan ultranasionalisme.


“Pada peringatan 54 tahun Tritura ini, Angkatan 66 Sumbar menyatakan, Pertama, menolak dan mengutuk setiap bentuk kekerasan, persekusi fisik dan pembatasan HAM yang dilakukan pemerintah Cina dan sebagian rakyat Cina terhadap masyarakat Uighur,” seru Maspar.

Kemudian, dilanjutkan, tuntutan kedua adalah mendesak Pemerintah Cina, Myanmar, Israel, Thailand, dan Philipina untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi dan akses masyarakat internasional mengenai kebijakan di Xinjiang dan masyarakat Uighur, Rohingya, Palestina, Patani, dan Moro.

“Ketiga, Angkatan 66 Sumbar mendesak PBB dan Dewan Keamanan untuk mengeluarkan resolusi terkait pelanggaran HAM berat atas masyarakat Uighur, Rohingnya, Palestina, Suriah, Yaman, India, dan lainnya secara adil dan proporsional,” lanut Maspar.

Selanjutnya, tuntutan ke-empat, Angkatan 66 Sumbar mendesak OKI dan ASEAN untuk mengadakan sidang khusus dan mengambil langkah-langkah konkret untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM yang dialami umat Islam.

Kelima, Angkatan 66 Sumbar mendesak pemerintah Indonesia agar menindaklanjuti arus keras aspirasi umat Islam dan bersikap lebih tegas untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM di Xinjiang.

“ Keenam, Angkatan 66 Sumbar mengimbau umat Islam agar menyikapi masalah pelanggaran HAM di Xinjiang dan daerah lain dengan semangat ukhuwah Islamiyah. Ketujuh, Angkatan 66 Sumbar mengimbau kepada seluruh slagorde Angkatan 66, yang pernah berjuang di bawah panji-panji Tritura dan Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) untuk kembali kepada sikap anti komunisme, menolak ketidakadilan dan ketidakbenaran yang menjadi ciri utama Angkatan 66, dan konsisten dalam menegakkannya,” tegas Maspar selanjutnya.

Di tempat yang sama, Wakil Walikota Bukittinggi Irwandi, yang turut menghadiri kegiatan tersebut, mengaku bangga dengan kehadiran Angkatan 66. Kegiatan ini, disebutkannya, merupakan salah satu peringatan rangkaian sejarah yang mengandung makna yang luar biasa. Disebutkan, semangat para pendahulu, khususnya Angkatan 66, perlu dilanjutkan.

“Ini perlu komitmen Kita bersama untuk mengingat sejarah salah satu perjuangan bangsa. Untuk para generasi muda, jadikan Tritura ini menjadi tonggak sejarah Indonesia. Bahaya laten komunis harus dilawan dan tidak boleh berkembang di Indonesia, khususnya di Bukittinggi. Kami dari Pemerintah Kota akan terus mendukung kegiatan angkatan 66, sehingga semangat Tritura tidak padam di Tanah Air ini,” sebut Wawako.

Peringatan 54 tahun Tritura  juga dihadiri Ismet Amzis, tokoh yang berperan penting dalam Pembangunan Tugu Tritura di Bukittinggi. Kegiatan juga diisi ajang ziarah ke makam Ahmad Karim dan juga kunjungan ke museum Angkatan 66 Sumbar di Jalan Lurus. (018)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018




      bukittinggi