Kegiatan Pelatihan Optimalisasi Promosi Dalam Pengembangan Desa Kreatif Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Desa Terindah Dunia - Nagari Pariangan, Tanah Datar, baru-baru ini. (Foto: Ist.)


Pendidikan

Akademisi: Pariwisata Harus Penuhi 4 Pilar Pembangunan

TANAH DATAR (SumbarFokus)

Pariwisata harus memenuhi empat pilar pembangunan, yaitu destinasi wisata, pemasaran yang berkelanjutan, industri yang terlibat, dan kelembagaan terkait, yang harus bersinergi untuk membentuk sebuah kesatuan untuk memberikan kesempatan bagi industri kepariwisataan, sebagai penopang aktivitas wisata untuk berkembang menjadi industri yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi pengusaha atau pemilik usaha, tetapi juga bagi pekerja dan masyarakat luas.

Hal ini dikemukakan dalam kegiatan Pelatihan Optimalisasi Promosi Dalam Pengembangan Desa Kreatif Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Desa Terindah Dunia - Nagari Pariangan, Tanah Datar, baru-baru ini.

Dosen sekaligus peneliti dalam program pengabdian kepada masyarakat (PKM) pendanaan Universitas Putra Indonesia YPTK Padang TA 2020, yang mengisi kegiatan tersebut, Dimas Perdana Oskar, didampingi oleh rekan sesama peneliti, Rangga Wenda Prinoya dan Mirsal, memaparkan di hadapan peserta pelatihan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Aula Kantor Wali Nagari Pariangan tersebut bahwa dalam mengembangkan destinasi wisata pada era new normal ini, perlu penyesuaian yang pas sesuai dengan protokol kesehatan yang ada. Kemampuan dalam membangun travel system atau jalur wisata yang memiliki nilai budaya, nilai kreatif, nilai ekonomi, kearifan lokal, dan komitmen yang berkesinambungan sangatlah diperlukan.


Pelatihan ini sendiri dibuka dengan penyerahan cenderamata secara simbolik kepada Ketua Badan Permusyawaratan Rakyat Nagari (BPRN) Pariangan Gusnaldi Labay Basa.

Pelatihan ini menyasar kepada para pelaku di industri pariwisata di Nagari Pariangan mulai dari pemilik guest house, pemandu wisata, pemilik usaha kuliner, dan pelaku usaha lainnya,” sebut Dimas.

Diuraikan, dari penyebaran kuesioner sebelum program PKM ini dilakukan, didapat data bahwa mayoritas penikmat destinasi wisata didominasi generasi muda dengan rentang umur 19 – 40 tahun dan informasi tersebut mereka dapatkan dari media sosial, utamanya instagram. Untuk itu, optimalisasi promosi dalam pengembangan desa kreatif berbasis partisipasi masyarakat lokal dan pemerintah kabupaten/kota menekankan pemanfaatan tren digital populis menjadi suatu keharusan.

Penekanan penggunaan Instagram secara maksimal, dikatakan, mampu menjadi etalase dari tempat wisata tersebut. Partisipasi dari masyarakat lokal dan pemerintah kabupaten/kota dalam komitmen membangun destinasi wisata dan mempromosikannya diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan pariwisata setelah masa pandemi.

Ditambahkan, saat ini, wisatawan domestik menjadi primadona dikarenakan wisatawan cenderung memilih untuk tidak berwisata ke tempat yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Masyarakat yang sudah bosan selalu di rumah saja berusaha untuk keluar rumah guna mencari banyak tempat baru di sekeliling tempat tinggal mereka.

Efek dari kegiatan yang dilakukan oleh wisatawan domestik ini adalah akan semakin banyak tempat wisata yang sebenarnya bagus tapi tidak terekspos akan terekspos ke depannya. Hal ini akan memunculkan destinasi wisata unggulan.

Kita Peduli!

Di akhir kegiatan, para peserta yang hadir dan masyarakat di Nagari Pariangan akan kembali untuk mengaktifkan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang sempat vakum untuk beberapa waktu. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan komitmen masyarakat dalam berwisata. (000)

 

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2020