Anggota KIPMI, pemilik ikan Aligator menyerahkan ikan peliharaanya kepada Kepala BKIPM Padang Rudi Barmara (kanan), Rabu (4/7/2018). (Foto: Wahyu Amuk)



14 Ikan Berbahaya Diserahkan KIPMI ke BKIPM Padang

PADANG (SumbarFokus)

Komunitas Ikan Predator Minang (KIPMI), baru-baru ini, menyerahkan 14 ekor ikan jenis invasif/berbahaya/pemangsa (terlarang) kepada Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Padang, Sumatera Barat.

Kepala BKIPM Padang, Rudi Barmara menyebutkan rincian 14 ekor ikan jenis invasif lokal yang diterima BKIPM tersebut 10 ekor ikan ikan sapu-sapu, satu ekor aligator plorida, aligator bar dua ekor, dan satu ekor ikan tarpon.

Rudi menyebutkan, penyerahan ikan ini mengacu ke Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2004 tentang Perikanan, yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.45 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.41/PERMEN-KP/2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.


"Sesuai UU tersebut, BKIPM Padang meminta masyarakat untuk menyerahkan ikan secara sukarela BKIPM mulai dari 1-31 Juli 2018 mendatang," kata Rudi.

Dirinya berharap, masyarakat mengindahkan imbauan UU ini untuk menyerahkan ikan-ikan berbahaya ke BKIPM Padang di kawasan Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Rudi menegaskan, setelah melampaui waktu yang diberikan, mulai Agustus 2108 pihak BKIPM Padang akan membentuk tim untuk turun langsung ke lapangan. Hal ini menurutnya sebagai bentuk langkah tegas terhadap masyarakat yang tidak mau menyerahkan ikan invasif secara sukarela kepada BKIPM Padang.

"Jika sudah turun ke lapangan, maka akan ada sanksi hukum sesuai UU, yakni bagi masyarakat yang terbukti memelihara ikan jenis invasif, bisa disanki 6 bulan penjara dan denda Rp1,5 miliar. Sebab ikan ini mengancam kelangsungan jenis ikan lokal," paparnya.

Sementara, Ketua KIPMI Rifki Prabowo mengakui komunitasnya menyerahkan ikan peliharaannya itu ke BKIPM untuk mematuhi aturan yang ada. Hal ini dikarenakan ia ingin menjadikan komunitas yang didirikan sejak tahun 2015 itu taat hukum.

"Makanya setelah membaca 152 species ikan yang tergolong invasif, kita langsung menyeleksi ikannya, dan barulah kita serahkan ke BKIPM Padang," ungkap dia.

Dia juga menyebutkan, adanya ikan predator di komunitas yang dipimpinnya itu didapatkan dengan cara dibeli. Selanjutnya ikan-ikan itu dipelihara dalam aquarium di masing-masing rumah yang tergabung dalam KIPMI.

Menurut Rifki, keberadaan ikan predator ini di Sumbar cukup banyak yang memeliharanya. Ia sebutkan, di Kota Padang saja cukup banyak masyarakat yang memelihara ikan jenis invasif, apalagi di kabupaten dan kota lainnya di Sumbar.

"Anggota KIPMI sekitar 50 orang, dan yang menyerahkan ikan predator yang masuk dalam 152 species itu, baru sebagian dari jumlah anggota kita," akunya. (005)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2018